Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 14/05/2008

PE Wilmar International capai US$124,4 juta

JAKARTA: Wilmar International Ltd, yang mengantongi konsesi lahan sawit seluas 573.405 ha di Riau dan Kalimantan, membayar pungutan ekspor (PE) CPO sebesar US$124,4 juta sepanjang kuartal pertama 2008.

Angka itu melonjak drastis dibandingkan dengan beban pajak serupa pada periode yang sama tahun lalu menyusul kenaikan persentase PE dari 1,4% pada 2007 menjadi 10%.

Dalam laporan keuangan yang dirilis perusahaan itu kemarin, PE itu ikut menaikkan biaya penjualan dan distribusi perusahaan yang tercatat mencapai US$336,2 juta atau 394,3% dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan pada periode yang sama pada 2007.

"Kenaikan yang besar pada pungutan ekspor CPO dan produk turunannya di Indonesia diperhitungkan mencapai US$124,4 juta dari total biaya penjualan dan distribusi," ungkap laporan yang dikutip dari situs resmi perusahaan itu kemarin.

Di sisi lain, kinerja usaha perkebunan perusahaan ini diketahui membukukan pendapatan yang berlipat ganda menjadi US$357,7 juta dibandingkan dengan kuartal pertama 2007. Laba sebelum pajak ikut terdongkrak 574% menjadi US$85,2 juta.

Produksi tandan buah segar perusahaan itu juga naik 189% menyusul penggabungan usaha perkebunan Wilmar dengan Grup Kuok, ditambah peningkatan produktivitas dari 4,2 ton per ha tahun lalu menjadi 5 ton per ha.

"Kami terkesan dengan kinerja perusahaan pada kuartal pertama ini karena dipicu kondisi pasar yang kondusif," ujar Chairman dan CEO Wilmar Kuok Khoon Hong.

Pendapatan dari sektor perkebunan itu menyumbangkan kenaikan total pendapatan usaha Wilmar yang naik 261% menjadi US$7,14 miliar. Laba bersih pada kuartal pertama 2008 tercatat US$343 juta atau naik 246% dibandingkan dengan laba periode yang sama 2007 sebesar US$88,2 juta.

Di Indonesia, lahan yang dimiliki Wilmar 573.405 ha yang berada di Riau dan Kalimantan. Sebanyak 160.786 ha di antaranya telah berproduksi.

Salah satu proyeknya yang telah beroperasi di Indonesia adalah Central Kalimantan Project (CKP) yang mengelola lebih dari 124.000 ha kebun sawit melalui enam unit bisnisnya, yaitu PT Mustika Sembuluh, PT Kerry Sawit Indonesia, PT Bumi Sawit Kencana, PT Sarana Titian Permata, PT Karunia Kencana Permai Sejati, PT Mentaya Sawit Mas, dan PT Prima Sawit Makmur.

Selain itu perusahaan ini  akan membangun pabrik biodiesel berkapasitas 1,15 juta ton per tahun.

Tahun lalu, perusahaan ini dikabarkan akan menguasai lagi 60.000 ha lahan baru menyusul rencananya bergabung dengan Rimcapital Holdings yang memiliki 60.000 ha kebun di Kalimantan. (aprika.hernanda@bisnis.co.id)

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain