Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 14/05/2008

Dari Grobogan menuju 'pentas' dunia

Tenda ukuran 10 kali 12 meter di areal Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah (Kawasan Pemangku Hutan/KPH) Purwodadi, Grobogan, pekan lalu disesaki para petani jagung. Sebagian dari mereka mengipaskan kertas yang dipegang ke arah tubuhnya. Di samping tenda, berdiri berbagai ruangan ukuran 4x4 m, yang memajang alat mesin pertanian seperti mesin perontok (pemipil), pengering, dan sarana poduksi pertanian lainnya.

Hiasan yang berbentuk jagung hibrida P-21, dibuat diberbagai tempat. Umbul-umbul pun berdiri berjejer dari pintu masuk hingga dekat tenda. Dua penari Gambyong menyambut rombongan. Tenda terasa sesak.

Kursi di bawah tenda itu dibuat berhadap-hadapan. Sejumlah besar menghadap ke utara dan beberapa menghadap ke selatan. Di kursi  yang menghadap ke selatan duduk Ketua Dewan Penasihat Organisasi Himpunan Kontak Tani Indonesia (HKT) Siswono Yudohusodo, mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sugiharto, Kepala Dinas Pertanian Kab. Grobogan Sumarsono, Manajer Asia Tenggara DuPont Andy Gumala, Country Manager DuPont Mardahana. Kursi yang menghadap ke utara semuanya warga sekitar hutan Perhutani itu dan pemilik lahan jagung yang bertebaran di samping tenda itu.

"Kulonuwon..." ujar Siswono Yudhohusodo di awal sambutannya pada acara Pioneer Tour, pekan lalu. "Saya bangga. Petani di sini sudah pintar. Kalian menanam komoditas yang harganya sedang booming," ujarnya dalam bahasa Jawa.

Saat ini, katanya, harga jagung di pasar dunia sudah mencapai US$250 per ton. "Ini karena stok dunia menipis, produksi tidak mampu mengiringi permintaan," tuturnya.

"Berapa harga jagung di sini?" tanya Siswono. "Rp1.600 per kg hingga Rp1.800 per kilogram," jawab petani. Dibandingkan dengan beberapa waktu lalu, angka itu jauh lebih baik. "Bulan sebelumnya, Rp800-Rp1.000 per kg," tutur para petani.

Bahkan, di penggilingan, dengan kadar air 17% hingga 20%, jagung petani dihargai Rp2.200. Ada juga yang mau membeli Rp2.500 per kilogram, dengan catatan kadar airnya ditekan hingga 15%. Jagung yang dihasilkan petani, umumnya hibrida, rata-rata tujuh hingga delapan ton per hektare.

Para petani binaan Perum Perhutani dan DuPont Indonesia, produsen benih jagung Pioneer, tidak hanya mampu menekan pencurian tanaman jati milik Perhutani dari Rp20,44 miliar pada 2002 menjadi Rp199,89 juta (2007).  Hutan yang membujur dari barat ke timur di antara dua Pegunungan Kendeng, kini sesak dengan tanaman jagung.

Petani binaan yang dilakukan Perhutani melalui program PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) Plus a.l. pemanfaatan lahan di bawah tegakan (PLDT). Selain ditanami Jatropha curcas, tanaman rosella, untuk tanaman pangan seperti padi dan jagung. Untuk jagung sudah digarap sejak 2003. Hasilnya, dari 2003 hingga 2007, terus meningkat. Terutama pada 2007, produksinya 63.872 ton. Lima tahun lalu, produksinya mencapai 2.963 ton.

Bina lingkungan

Meneg BUMN 2005-2007 Sugiharto mengatakan petani bisa lebih maju lagi. Soal permodalan, BUMN di seluruh Indonesia memiliki dana bina lingkungan yang diambil dari 10% keuntungannya. "Itu bisa dimanfaatkan," ujarnya.

"Potensi lahan Indonesia untuk menghasilkan jagung masih besar," kata Asean Bisnis Manager PT Dupont Indonesia. Dari tiga juta hektare lahan jagung, untuk jagung hibrida baru 10%. Produktivitas masih bisa digenjot. "Vietnam, dari 1,2 juta hektare lahannya, semua sudah ditanami jagung hibrda. Mereka surplus," katanya.

Stok jagung dunia kini menurun drastis karena permintaan jagung untuk etanol melonjak. "Produksi, tidak mampu mengejar permintaan itu. Ini potensi pasar yang bisa diburu Indonesia. Kita harus jadi pemain utama di dunia," katanya.

Country Manager DuPont, Mardhana mengatakan permintaan jagung di Indonesia naik. Pihaknya, kesulitan untuk memenuhi permintaan.

Petani dari 41 LMDH binaan Perum Perhutani juga mengungkapkan. Mustofa, Hadi Warsito dan Najiman, dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Makmur (binaan Perum Perhutani Unit 1), mengakui kesulitan mendapatkan benih.

"Ya, kami akui. Sebab, estimasi kami cukup. Ternyata permintaan saat ini naik," ujar Country Manager DuPont Indonesia, Mardahana. Kini, DuPont akan menggenjot produksinya menyusul naiknya permintaan benih. (martin.sihombing@bisnis.co.id)

Oleh Martin Sihombing
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Barito incar areal perkebunan di Maluku
  • AS inspeksi perikanan tangkap Indonesia
  • BUDI DAYA
    Empat daerah Jabar jadi sentra Manggis
  • BUDI DAYA
    Penetapan anggaran DKP alot