Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 16/05/2008
Harga jagung naik
JAKARTA: Harga jagung, di pasar lokal dan dunia, akan terus menguat akibat tidak sinkron antara permintaan dan pasokan, sehingga stok jagung dunia pun tergerus.
United State Department of Agriculture (USDA) dalam laporan bertajuk Asia Asia Corn Supply, Consumption, and Ending Stock, memaparkan produksi jagung Asia memperlihatkan tren naik. Pada 2003/2004, produksi mencapai 155,66 juta ton, 2007/2008 produksi naik menjadi 190,25 juta.
Namun, menurut laporan itu, konsumsi juga mengalami kenaikan. Pada 2003/2004, mencapai 200,15 juta ton. Pada 2007-2008, produksi mencapai 225,48 juta ton. Kondisi ini menggerus stok jagung dunia. Dari 38,27 juta ton pada 2006/2007, menjadi 31,55 juta ton pada 2008.
Akibatnya, harga jagung kini terkerek naik. Jika pada 1999 harga jagung masih US$91,7 juta ton, tahun ini sudah US$248 per ton. "Stok jagung dunia, kini cukup untuk 48 hari," ujar Andy Gumala, Asean Business Manager PT DuPont Indnesia, kemarin.
Harga jagung itu, menurut Andy, akan terus menguat. Terutama disebabkan oleh terus menurunnya persediaan stok di negara penghasil jagung utama seperti AS, China, Uni Eropa dan Brasil. "Termasuk karena naiknya ongkos angkut dari negara pengekspor (AS dan Argentina) ke negara pengimpor.
Prediksi itu, akan dipicu oleh terus meningkatnya pemakaian jagung untuk etanol-sumber energi alternatif yang renewable (terbarukan)-sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada minyak bumi (BBM) yang harganya sudah melebihi US$100 per barel.
Di AS, pemakaian jagung untuk etanol pada 2005 mencapai 40 juta ton (20%), 2006 naik menjadi 50 juta ton (22%) dan 2007 melonjak menjadi 82 juta ton (30%).
Permintaan akan tumbuh terus apabila harga minyak bumi tinggi (di atas US$60). Dari mana sumber jagung untuk pertumbuhan etanol ini? Diperkirakan mengambil porsi dari jagung yang akan diekspor dan mengambil porsi dari jagung untuk industri pakan.
Menurut Andy, kondisi itu menyulitkan negara maju dengan income tinggi dan cenderung tidak memiliki supply jagung yang cukup. Misalnya, Malaysia yang butuh 5 juta ton, Jepang 16 juta ton, Taiwan 5 juta ton, Korea 9 juta ton dan negara-negara Teluk 5 juta ton.
Global Agriculture Information Network (Grain)-milik USDA-mengungkapkan pada 2008, total areal tanaman jagung hibrida di Indonesia diperkirakan naik dari 811.600 hektare pada 2007 menjadi 834.000 hektare dengan rata-rata produktivitas 4,5 juta ton per hektare. "Itu akan mendorong permintaan benih hibrida juga akan naik," ujar laporan itu.
Pada 2007, produksi benih jagung hibrida mencapai 16.500 ton-17.000 ton. Tahun ini diperkirakan naik menadi 18.000 ton-19.000 ton. Harga benih itu diperkirakan juga naik pada kisaran Rp28.000 per kg-Rp32.000 per kg. (martin.sihombing@bisnis.co.id)
Oleh Martin Sihombing
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Sapta Medan bangun pabrik pengolahan sawit Rp80 miliar - BUDI DAYA
Deptan bangun sumber genetik sawit - Bulog-IDB akan bangun rice estate
- Ekspor perikanan semester I capai US$1,1 miliar
- Barito incar areal perkebunan di Maluku