Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 16/05/2008

MPN: Target investasi sulit dicapai

JAKARTA: Sektor perikanan tangkap nasional kini tidak lagi ekonomis menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), sehingga kalangan pengusaha perikanan pesimistis rencana investasi baru akan terealisasi sesuai dengan target.

Krisis usaha ini hampir dipastikan mengganjal penanaman modal sejumlah perusahaan, baik asing maupun dalam negeri, yang sempat menjanjikan investasi baru hingga Rp3,64 triliun.

Ketua Umum Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) Shidiq Moeslim menyatakan kapal-kapal kecil berbobot di bawah 30 gross ton (GT) yang beroperasi di satu sentra perikanan tangkap, pantura, kini tinggal 20%.

"Belum naik saja, sekarang mereka tinggal 20%. Kalau harga BBM naik, mungkin minus. Investasi jelas mandek. Tidak akan ada investasi baru tahun ini dengan situasi begini," ujarnya kemarin.

Di luar pengaruh harga BBM yang tidak bisa lagi ditahan, Shidiq menuturkan, pemerintah tidak menyiapkan infrastruktur pendukung yang optimal. Akibatnya, pengusaha dibebani biaya operasi yang tinggi, ditambah daya dukung fasilitas yang tidak memadai.

Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) hingga kini telah mencatat komitmen investasi baru dari 35 perusahaan dengan nilai total Rp3,64 triliun dan US$162,48 juta. Rencana itu diduga baru berjalan 5% menyusul revisi aturan terkait dan iklim usaha di dalam negeri yang tidak menentu.

Wakil Ketua Himpunan Perusahaan Penangkapan Udang Indonesia (HPPI) Israfudin menyatakan harga BBM nosubsidi kini Rp11.250 per liter. "Untuk kapal pukat udang berbobot sekitar 150 GT-200 GT membutuhkan 80 ton-100 ton. Biaya BBM sekali trip menyedot 68% dari biaya operasi," keluhnya.

Sejak kenaikan BBM pada 2005, katanya, pengusaha sudah melakukan upaya efisiensi yang bisa menghemat sekitar 8%-12%.

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    Swedia siap bantu petani sawit
  • BUDI DAYA
    IndoBiC gelar workshop bioteknologi
  • BUDI DAYA
    Mentan: Tarik gula rafinasi dari pasar
  • Industri pakan & konsumen daging ayam