Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 09/07/2008
Petani jagung mulai tersenyum
"Panen menggembirakan," tutur satu petani jagung di daerah yang menjadi sentra jagung di Provinsi Jawa Tengah. Petani jagung di sentra produksi Jateng itu, kini mulai terseyum, lantaran, pada musim panen tahun ini, harga komoditas itu meroket hingga 50% menjadi R3.000 per kg. "Panen yang menggembirakan," ujar Supadmo, petani asal Krangganharjo, Kabupaten Grobogan, kemarin.
Itu bukan hanya milik dia. Namun, juga dirasakan beberapa petani lainnya di sentra produksi jagung di Jateng yang mencakup Kabupaten Grobogan, Temanggung, Kendal dan Demak.
"Tahun ini, kami memetik keuntungan cukup besar," tuturnya, lantaran, petani itu kerap mengalami keterpurukan pada musim panen sebelumnya.
Sebulan sebelumnya, harga jagung berada di bawah harga yang diharapkan. Namun, beberapa hari terakhir ini, menjelang musim panen raya, harga terus meroket menjadi Rp2.600 per kg dari sebelumnya Rp2.000 per kg.
Lonjakan harga itu, belum berhenti di situ, sebab, harga itu naik lagi menjadi Rp2.700 per kg. Bahkan, kini, melonjak hingga 50% menjadi Rp3.000 per kg. Diperkirakan, harga masih bisa tembus Rp4.000 per kg.
Supadmo mengatakan kenaikan harga itu disebabkan oleh banyak hal. Satu di antaranya kualitas hasil panen tahun ini lebih baik dibandingkan dengan panen sebelumnya. Kemudian, permintaan para pedagang dari berbagai daerah cukup besar menjelang panen raya.
"Namun, lonjakan harga terakhir, banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM yang berdampak pada kenaikan harga pada semua komoditas," papar Sardi petani asal Patebon Kabupaten Kendal.
Stok jagung
Dia mengatakan dengan harga jagung Rp3.000 per kg untuk jenis jagung kering simpan dengan kadar air 17% itu, petani mendapatkan keuntungan. Sayangnya, kenaikan terjadi pada saat petani hanya memiliki stok jagung yang terbatas.
"Untung, tetapi tidak sebesar yang diharapkan. Yah, tapi masih bisa dirasakan," ujarnya.
Dia membandingkan dengan masa-masa panen pada tahun sebelumnya. "Petani selalu rugi akibat merosotnya harga," tuturnya.
Menurut Rasikin, seorang petani lainnya di Kabupaten Demak, lonjakan harga itu merupakan lonjakan harga paling tinggi selama petani menanam jagung, sebab, sebelumnya, cenderung terus menurun.
"Kalaupun naik, hanya Rp50 per kg sampai Rp100 per kg," ujarnya.
Terjadinya kenaikan harga jagung pada musim panen tahun ini, diharapkan pula dapat mengubah nasib petani. "Dan, keuntungan setidaknya bisa untuk menutupi biaya pada musim tanam sebelumnya," tuturnya.
Hingga musim panen berakhir di wilayah Jateng, diperkirakan, produksi jagung totalnya mencapai 2,43 juta ton jenis pipilan kering atau naik 4,42%, dibandingkan dengan yang dihasilkan tahun lalu yang hanya 2,23 juta ton.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menyebutkan perkiraan itu didasari dari angka yang diprediksikan pada kenaikan luasan lahan tanam yang bertambah 18.100 hektare atau naik 3,17% menjadi sekitar 589.117 hektare, dari tahun lalu 571.013 hektare. (rachmat. sujianto@bisnis.co.id)
Oleh Rachmat Sujianto
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Petani sulit dapatkan urea - BUDI DAYA
Perkuat pertanian & industri primer - Mentan: Hasil kajian akan disosialisasikan
- Rumput laut berdayakan warga Rote Ndao
- 20 Perusahaan perikanan bangkrut