Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 17/07/2008

Industri kakao kurangi produksi

JAKARTA: Industri pengolahan kakao menurunkan kapasitas produksi akibat harga bahan baku melambung di atas harga rata-rata 2007, yang tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual produk olahan.

"Mereka kini mengurangi kapasitas giling. Tinggal 60%," ujar Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefy Sikumbang di Jakarta, kemarin.

Pasalnya, katanya, industri ini kesulitan modal untuk menggenjot produksi. "Biaya sudah naik dua kali lipat karena harga kakao naik, sedangkan marginnya tidak naik," ujarnya.

Menurut dia, saat ini pihak perusahaan sulit untuk mengajukan kredit ke bank, sebab yang mau dijadikan jaminan sudah habis. "Untuk menggunakan dana sendiri juga sulit, sebab margin yang diperoleh tipis, karena harga produk tidak naik," tuturnya.

Harga kakao di pasar internasional US$2.700 per ton, di tingkat petani mencapai Rp1.500. "Maka, banyak perusahaan yang kurangi produksi," ungkapknya.

Bahkan menurut Zulhefy, ada empat perusahaan masing-masing dua di Jakarta dan dua di Makassar telah istirahat. "Terbesar, kini tinggal Petra Food di Bandung. Namun, hasilnya impas aja. Kapasitas produksi olahannya 70.000 ton," ujarnya.

Saat ini, 73% pasar kakao olahan (cocoa processing) dunia hanya dikuasai 14 perusahaan. Dari jumlah tersebut hanya ada 5 perusahaan yang menguasai pasar terbesar yaitu Archer-Daniels-Midland (ADM) (15%), Cargill (15%), Barry Callebaut (15%), Blommer (5%) dan Petra Foods (5%).  Adapun industri olahan cokelat (chocolate manufacturing) hanya dikuasai 5 perusahaan yaitu Nestle (10,2%), Ferrero (8,2%), Cadburry-Schweppes (6,1%), Mars (4,9%) dan Hershey (4,6%).

Kehilangan devisa

Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Halim Razak, negara tujuan ekspor industri kakao olahan dari Indonesia yakni Eropa, Amerika Serikat dan China, sementara negara tujuan ekspor kakao mentah Indonesia adalah Malaysia sekitar 250.000 ton per tahun, Singapura, dan AS.

"Indonesia kehilangan devisa US$300 juta selama tiga tahun berturut-turut sejak 2006," ujarnya saat dihubungi di sela-sela diskusi produksi kakao Indonesia bersama Asosiasi Kakao se-Asia di Makassar. Pertemuan Cocoa Association of Asia (CAA) dihadiri perwakilan dari beberapa negara yakni Malaysia, Singapura, Filipina, Belanda, Vietnam, dan Papua Nugini.

Data dari Organisasi Kakao Dunia atau International Cocoa Organization (Icco), menunjukkan selama ini harga kakao dunia berfluktuasi dengan kecenderungan terus naik. Pada periode September-November 2006 harga kakao sempat anjlok cukup tajam.

Namun, Desember 2006 kembali naik bahkan pada Juni 2007 mencapai US$2.017 per  ton. Semester II 2007 harga turun. Desember 2007 harga kembali naik mencapai US$2.113/ton.  Kini, harga sudah mencapai US$2.700.

"Agak sulit, tapi diperkirakan US$3.000 pada akhir tahun ini. Namun, di perjalanannya, ada gejolak naik turun," tutur Zulhefy. (martin. sihombing@bisnis.co.id)

Oleh Martin Sihombing
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    Revitalisasi di Babel kurang jalan
  • Riaupulp produksi listrik dari getah kayu
  • 75.047 Ha tanaman padi gagal panen
  • Penerapan aturan mutu perikanan mundur