Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 17/07/2008

Era emas kakao di ujung tanduk

Fakta peristiwa yang terjadi di dunia kakao di Tanah Air, seperti judul lagu Koes Plus, Kisah Sedih di Hari Minggu. Hari yang seharusnya diwarnai kegembiraan, justru suasananya sedih. Begitulah kakao kita, saat harga komoditas ini US$2.700 per ton, produksi justru turun.

"Kini, kami sudah mau mati," ujar Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefy Sikumbang.

Dalam kondisi harga yang tinggi, bahkan diperkirakan melonjak hingga US$3.000 per ton pada akhir tahun, dunia perkakaoan Indonesia, dihinggapi penyakit kanker ganas. "Tanaman diserang hama," katanya. Dari mulai hama penggerek buah kakao (cronomorpha eramelella) hingga vascular streak dieback (VSD).

Kini, penyakit itu, membuat produktivitas tanaman loyo. Produksi kakao nasional, terkoreksi 20%. "Paling tinggal 480.000 ton," katanya soal produksi tahun ini.  Penyakit tersebut, sudah berlangsung selama tiga tahun.

Tak ayal, perkebunan kakao kini terancam hancur karena produksi yang dihasilkan selama tiga tahun terakhir terus merosot. Produksi kakao Indonesia pada 2006 sekitar 590.000 ton dan turun menjadi 530.000 ton pada 2007.

"Tahun ini? Saya perkirakan tidak akan mencapai 500.000," ujar Ketua Umum DPP Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Halim Razak.

Kalangan industri ini pun gemas. Sudah lapor sana sini, tapi tak ada solusi. Bahkan, kata Zulhefy, permintaan stakeholders untuk berdialog dengan Mentan Anton Apriyantono, tak kunjung kesampaian.

"Kami disuruh berurusan dengan Dirjen Perkebunan. Kami tolak, ini bukan kelasnya dirjen," ujarnya.

Nilai ekspor biji kakao Indonesia pada 2006 mencapai-dengan harga saat itu-US$975 juta atau meningkat 9,9% per tahun (2002-2006). Volume maupun nilai ekspor yang dicapai selama periode 2005-2006 telah kembali melampaui volume dan nilai ekspor pada 2002.

Peta perkakaoan

Namun, tahun ini, penyakit itu membuat kondisi akan jauh lebih buruk. "Kita prediksi, tahun ini produksi kakao di bawah 500.000 ton," jelasnya.

Dalam peta perkakaoan dunia, yang dikategorikan pemasok utama kakao dunia adalah Pantai Gading (38,3%), Ghana (20,2%) dan Indonesia (13,6%). Pemasok lainnya Kamerun (5,1%), Brasil (4,4%), Nigeria (4,9%) dan Ekuador (3,1%).

Walapun sebagai pemasok utama kakao dunia, selama 2002-2006 rata-rata pertumbuhan produksi Pantai Gading relatif rendah yakni hanya 1% per tahun, sebaliknya Ghana tumbuh 10,5% per tahun.

Indonesia dan Kamerun, tumbuh moderat, masing-masing meningkat rata-rata 5,1% dan 4% per tahun.

Kondisi sakit subsektor perkebunan ini, harus segera dibenahi. Pemerintah tidak bisa lagi  bersikap masa bodoh. Pemerintah harus segera melakukan tindakan proaktif. "Menteri, tolonglah. Kami sudah mau mati," begitu seruan Zulhefy lantaran kondisi perkakaoan Indonesia, menggemaskan.

Subsektor ini adalah salah satu penyumbang devisa. Apalagi pada saat ini, harga di pasar dunia terus melonjak. Oleh karena itu, jika tidak, kondisi di subsektor ini, di perkebunan maupun industri pengolahannya, akan menjadi semakin mengerikan, tutup.

Petani dan pekebun tidak akan bisa memaksimalkan situasi harga yang lagi baik, sebab tanamannya sudah digempur kedua hama itu. Sudah buah, batang pun digerogoti penyakit, begitu kata satu petani. Akibat serangan hama ini, produksi kakao Indonesia mengalami penurunan yang cukup drastis.

Kesadaran perlunya langkah cepat mengatasi persoalan kakao, bukan tidak ada. Menurut Surat Menteri Pertanian Anton Apriyantono pada 14 April 2005 salah satu upaya mengatasi hal itu [hama] diperlukan penelitian dalam memperoleh jenis tanaman yang rentan terhadap hama kutu biji kakao.

Potongan harga

Akibat dari buruknya mutu kakao Indonesia ini, ekspor kakao Indonesia selalu mengalami automatic detention oleh AS dari 1991 sampai sekarang. Selain itu, pembeli kakao di luar negeri selalu memotong harga US$200 per ton, karena biji tidak terfermentasi.

Namun, apa yang sudah dilakukan? Kalangan pelaku perkebunan kakao berharap pemerintah memerhatikan kebutuhan para petani kakao. Selain menyediakan pupuk dalam jumlah cukup dan harga terjangkau serta intensif melakukan peremajaan tanaman karena hingga saat ini, penanganan hama VSD masih belum ditemukan formulanya secara teknologi.

International Cocoa Organization memprediksi pada 2011 produksi kakao dunia diperkirakan 4,05 juta ton atau tumbuh melambat menjadi 1,9% rata-rata per tahun (2007-2011).

Konsumsi dunia pada 2011 diperkirakan lebih tinggi dari produksi yang mencapai 4,1 juta ton. Pertumbuhan rata-rata sepanjang 2007-2012 diperkirakan mencapai 2,7% per tahun.

Organisasi kakao tersebut memperkirakan dalam jangka panjang akan terjadi defisit kakao dunia sekitar 10.000 ton-50.000 ton setiap tahun akibat makin tingginya konsumsi.

Itulah mengapa, pemerintah [Deptan] layak melakukan tindakan agar Indonesia mampu memanfaatkan pasar yang tumbuh itu.

Pemerintah jangan hanya mau ambil untung. Jika tidak, era emas kakao yang menghasilkan devisa hingga miliaran dolar AS, lenyap. (martin. sihombing@bisnis.co.id)

Oleh Martin Sihombing
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain