Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 18/07/2008

Bulog-IDB akan bangun rice estate

JAKARTA: Perum Bulog serius menggandeng Islamic Development Bank (IDB) untuk menggarap bisnis hulu dengan melanjutkan evaluasi areal baru di Kalimantan dan Sulawesi yang memperluas potensi pengembangan rice estate di dalam negeri.

Ratusan hektare (ha) areal baru itu menambah potensi lahan untuk penanaman padi terintegrasi seperti yang direncanakan di Merauke, Papua seluas 1 juta ha.

"Kami sedang menunggu olah lanjut dari IDB. Tempo hari mereka datang dan konsultasi dengan kami untuk membuka rice estate atau kedelai. Kami arahkan ini ke daerah timur. Ada ratusan ha di Kaltim, Kalteng, dan Sulawesi, selain 1 juta ha di Papua," kata Dirut Bulog Mustafa Abubakar sebelum rapat kerja dengan Komisi IV DPR kemarin.

Bulog, ujarnya, menerima tawaran dari beberapa pemerintah daerah di kawasan timur untuk mengembangkan pertanian padi terintergasi berupa rice estate. Karena itu, lanjutnya, sejumlah pemda mengajukan lahannya untuk digarap.

Kendati tidak menyebutkan secara rinci, Mustafa menuturkan ada ratusan ribu ha areal yang berpotensi dibuka menjadi lahan persawahan, a.l. di Kaltim, Kalteng, dan beberapa kawasan di Sulawesi.

Dalam pertemuannya dengan sejumlah wakil negara anggota IDB, seperti Qatar dan Saudi Arabia, belum lama ini, Mustafa mengatakan pihaknya siap menjalin kerja sama untuk pembukaan areal persawahan baru tersebut.

Namun, lanjutnya, hingga kini pihaknya belum dapat menentukan kerangka kerja sama ini apakah dalam bentuk usaha patungan ataupun operasional bersama (joint operation) dengan mitra asingnya.

Sementara konsep penggarapan lahan yang diharapkan dapat diterapkan, Dirut Bulog menuturkan akan menggunakan pola kemitraan atau inti rakyat sehingga rice estate tersebut tidak 100% digarap komersial.

"Kami mengusulkan 75% untuk pemodal dan minimal 25% untuk inti rakyat sehingga tidak timbul ketimpangan yang mengakibatkan ada resistensi dari warga sekitar. Jadi, tidak murni kapitalisasi pertanian."

Investasi

Sementara itu, Sekjen Deptan Hasanuddin Ibrahim mengatakan sejumlah pengusaha asal Arab Saudi menyatakan akan menyediakan sekitar Rp600 miliar untuk membuka rice estate seluas 5.000-10.000 ha areal di Merauke.

Pembukaan lahan baru ini diarahkan sejalan dengan beberapa proyek infratruktur yang akan dibangun pemerintah, a.l. 700 kilometer jalan provinsi, tiga pelabuhan, dan sistem irigasi di lokasi tersebut.

"Untuk membuka lahan dibutuhkan sekitar Rp8 juta-Rp10 juta per ha. Jadi, untuk membuka sampai dengan 5.000 ha dibutuhkan setidaknya Rp40 miliar," katanya baru-baru ini.

Rencana investasi perusahaan asal Timur Tengah itu merupakan kelanjutan dari tawaran Mentan Anton Apriyantono di sela-sela konferensi pangan dunia yang digelar organisasi pangan dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) di Roma pada awal Juni 2008.

Namun hingga kini, Deptan sendiri belum dapat memastikan kapan proyek dan kerja sama dengan pengusaha Timur Tengah itu akan terealisasi.

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain