Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 21/07/2008

Penerbitan SPP bahan baku lamban
Harga pakan unggas bergerak naik

JAKARTA: Mulai pekan ini, harga pakan unggas diperkirakan menembus level Rp5.300 per kilogram akibat kendala pasokan bahan baku belum terselesaikan a.l. kelambanan penerbitan surat persetujuan pemasukan (SPP) tepung tulang dan daging (meat bone meal/MBM).

Situasi itu membuat kalangan peternak pesimistis menahan harga produk di level rendah, sehingga harga telur dan ayam berpotensi mencapai kisaran Rp15.000-Rp17.000 per kg.

Kenaikan harga pakan sekitar 12% dalam satu bulan terakhir atau 52% dibandingkan dengan rata-rata tahun lalu memicu peningkatan biaya produksi peternak ayam menjadi Rp14.000 per kg dari kisaran Rp10.000-Rp11.000 per kg dalam 3 bulan terakhir.

Hartono, Ketua Harian Pusat Informasi dan Pemasaran (Pinsar) Unggas, mengungkapkan pihaknya telah menerima pemberitahuan dari produsen pakan ternak terkait dengan penyesuaian harga komoditas tersebut.

"Kami sudah mendapatkan pemberitahuan dari produsen pakan. Mulai besok [hari ini] pakan broiler menjadi Rp5.300 per kg dan layer Rp4.200 per kg. Kenaikan harga bahan baku sudah tidak bisa ditahan lagi," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Dia mengakui kondisi ini sudah tidak mungkin dihindari karena imbas kenaikan harga minyak mendongrak harga bahan baku pakan yang masih tergantung impor, terutama jagung.

Di dalam negeri, lanjutnya, peningkatan produksi terlalu lambat sehingga tidak bisa mengejar pasokan untuk kebutuhan industri pakan.

Karena itu, ungkapnya, peternak tidak mungkin menahan harga produk pada kisaran yang stabil seperti dalam 3 bulan terakhir.

Harga ayam hidup, katanya, akan mencapai kisaran Rp15.000-17.000 per kg dari kisaran saat ini Rp12.500-Rp14.000 per kg di Pulau Jawa.

Adapun harga telur akan mencapai puncaknya di kisaran Rp19.000 per kg dari harga tertinggi saat ini Rp13.500 per kg.

"Peternak itu biasanya menyimpan stok 3 bulan. Itu kenapa 3 bulan terakhir harga produk bisa stabil. Dengan harga baru seperti sekarang, tidak mungkin peternak bisa bertahan tetap rugi. Biaya produksi kami perhitungkan menjadi Rp14.000 per kg," ujarnya.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Fenny F. Gunadi mengakui harga bahan baku pakan yang terus naik memaksa produsen menaikkan produk.

Tepung tulang

Di sisi lain, kendala pasokan bahan baku pun belum terselesaikan a.l. kelambanan penerbitan surat persetujuan pemasukan (SPP) tepung tulang dan daging (meat bone meal /MBM).

"Jagung lokal sekarang Rp3.800-Rp3.950 per kg, sedangkan jagung impor ex AS US$440 per ton. Bungkil kedelai ex India menjadi US$580. Kalau yang dari AS US$640 per ton," tuturnya.

Tri Hardiyanto, Ketua Gabungan Organisasi Peternakan Ayam Nasional (GOPAN), mengungkapkan peternak hanya bisa bertahan dengan harga pakan di bawah Rp5.000 per kg. Jika harga itu naik, lanjutnya, harga produk tidak mungkin tetap berada di level stabil seperti saat ini.

Dia menegaskan pemerintah harus segera membuat kebijakan untuk mengamankan pasokan jagung di dalam negeri yang menjadi bahan baku utama industri pakan. Tanpa upaya itu, harga pakan dipastikan terus naik. (aprika.hernanda@bisnis.co.id)

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain