Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 21/07/2008

Jakaratana Tama butuh 2.000 ton terigu

JAKARTA:  Produsen produk mi instan Gaga Mi 1000 dan Gaga sarden Kare, PT Jakaratana Tama-yang tengah mengincar 10% pasar mi nasional-membutuhkan terigu 2.000 ton untuk  memproduksi 600.000 karton mi.

"Sekarang ini, perusahaan kami hanya mengisi 3% dari pasar mi nasional, sebagian besar sebanyak 75% masih dikuasai kelompok Indofood," ujar Direktur Operasional perusahaan tersebut, Eddy Suwandi seusai peluncuran produk Gaga Mi 1000 dan Gaga sarden Kare  di Ciawi, Bogor, akhir pekan lalu.

Saat ini, perusahaan membutuhkan terigu sebanyak itu dan minyak goreng 800 ton per bulan untuk memproduksi 600.000 karton mi instan yang berisi 24 juta bungkus untuk dipasarkan ke seluruh Indonesia. Prakiraan itu didasarkan pada rata-rata masyarakat yang populasinya 220 juta orang mengonsumsi 5 bungkus mi instan per bulan.

Produsen produk mi instan itu, kini menargetkan memperoleh 10% pasar mi nasional yang mencapai Rp1 triliun per bulan dengan penjualan 1 miliar bungkus produk mi instan kepada masyarakat.

Target pencapaian 10% pasar mi nasional itu, menurutnya, diyakninya akan tercapai dalam lima tahun ke depan dengan dukungan tenaga profesional yang sebelumnya pernah berpengalaman dalam memproduksi dan memasarkan produk yang sama. "Kami sudah menyiapkan taktik dan strategi untuk memperoleh target itu," ungkapnya.

Penyebutan angka Rp1.000 sebagai harga jual produk mi dengan rasa Soto Mi, Ayam bawang dan Goreng spesial diyakini sebagai bentuk strategi merebut pasar masyarakat yang belakangan ini memilik daya beli yang rendah.

Menurutnya, melambungnya harga kebutuhan pokok sandang dan pangan yang dipicu oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dimanfaatkan perusahaan itu menawarkan produk tersebut.

"Dengan memanfaatkan daya beli masyarakat yang begitu rendah, perusahaan yang menjual mi Rp1.000 di bawah harga rata-rata mi yang dijual di pasar sekarang ini."

Diingat konsumen

Selain menjual mi dengan harga jual di bawah pasar, lanjut Eddy, perusahaannya juga menawarkan produk sarden dengan rasa yang selama ini belum ada.

"Kami menjual sarden dengan rasa kare yang selama ini belum pernah ada. Mudah-mudahan penjualan sarden dengan aroma kare bisa diterima masyarakat," katanya.

Komisaris PT Jakaratana Tama, Ekahadi Djaja dalam peluncuran produk itu menekankan kepada karyawannya memperbaiki sistem produksi penampilan yang berbeda dibandingkan  dengan produk yang sama. "Jadikanlah produk mi Gaga sebagai produk yang diingat konsumen."

Dia mengharapkan para karyawannya dapat meyakinkan konsumen bahwa produk mi ataupun sarden yang diluncurkan perusahaan tersebut memiliki rasa yang berbeda."Misalnya sarden kare, bukanlah produk makanan kaleng dengan olahan ikan yang hanya beraroma cabai dan tomat, tapi memiliki rasa kare."

Oleh Erwin Tambunan
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    Revitalisasi di Babel kurang jalan
  • Riaupulp produksi listrik dari getah kayu
  • 75.047 Ha tanaman padi gagal panen
  • Penerapan aturan mutu perikanan mundur