Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 21/07/2008

Swasembada daging sapi pada 2010 diragukan

JAKARTA: Program swasembada daging sapi pada 2010 sulit dicapai karena sistem budi daya hewan ternak itu hanya mengandalkan petani yang banyak memiliki keterbatasan.

Koordinator Dewan Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia Achmad mengatakan petani sering menghadapi tekanan ekonomi yang cukup mendesak a.l. kebutuhan biaya sekolah anak, berobat, atau untuk hajatan dan perbaikan rumah.

"Maka, pada saat itulah biasanya sapi peliharaan yang menjadi sasaran untuk dijual, tidak peduli sapi dalam keadaan subur untuk reproduksi atau sedang hamil karena itulah salah-satu aset yang paling berharga," katanya menjawab Bisnis di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan program swasembada daging sapi di Indonesia yang dilakukan dengan mempertahankan dan meningkatkan populasi sapi lokal akan lebih efektif mencapai keberhasilan jika dilaksanakan dengan pola industrial.

Bukan diserahkan kepada petani secara perorangan karena sebagaimana kondisi riilnya para petani sering dihadapkan pada situasi ekonomi yang mendesak sehingga hewan ternak itu menjadi korban, dijual atau disembelih.

"Karena itu sering sapi betina subur yang berpotensi untuk beranak atau sapi yang sedang hamil muda dijual atau dipotong untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga petani tersebut," katanya.

Menurut Achmad kondisi semacam itulah yang menyebabkan target swasembada daging sapi di Indonesia pada 2010 sulit dicapai, karena populasi sapi lokal relatif tidak bisa didongkrak pertumbuhannya signifikan.

Justru sebaliknya, lanjutnya, populasi sapi lokal di Tanah Air cenderung terus menurun jumlahnya dan digantikan kedudukannya oleh sapi impor dari Australia yang jumlahnya semakin banyak.

Dia menjelaskan penyusutan populasi sapi lokal mulai terasa sejak lima tehun terakhir ini, yang ditandai dengan kesulitan pengusaha untuk mendapatkan pasokan secara konsisten sebanyak 100 ekor sapi per minggu.

Pengurasan atau pemotongan sapi lokal yang secara tidak terkendali itu terus berlangsung hingga dirasakan dampaknya pada 1974. Untuk mencegah kemungkinan terjadi kelangkaan daging sapi, lanjutnya, pemerintah pada 1990 membuka izin impor sapi hidup dari Australia sebagai substitusi.

Jumlah sapi impor bakalan dari Australia itu terus meningkat seiring dengan semakin berkurangnya populasi sapi lokal di sejumlah daerah sentra produksi sapi lokal di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Menurut Achmad belum ada data yang akurat mengenai jumlah sapi lokal di Indonesia, karena data yang ada dibuat oleh Departemen Pertanian pada 1996 yang menyebutkan jumlahnya sekitar 11 juta ekor, tersebar di sejumlah daerah sentra produksi.

"Data itu tidak pernah berubah. Kalau jumlah sapi lokal sekarang bisa mencapai 60% dari angka itu menuru saya sudah bagus. Karena kenyataannya sekarang  di lapangan pengusaha kekurangan pasokan sapi lokal," katanya.

Akibat pengurasan sapi lokal yang tidak terkendali, lanjutnya, sampai saat ini Indonesia masih menggantungkan 28% kebutuhan daging sapi nasional dari impor, yang sebagian besar dipasok dari Australia dalam bentuk sapi bakalan.

Oleh Nurudin Abdullah
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain