Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 21/07/2008

Indonesia ajak UNIDO kembangkan tuna

JAKARTA: Departemen Kelautan dan Perikanan menggandeng organisasi dunia untuk pembangunan industri (United Nation Industrial Development Organization /UNIDO) mengembangkan potensi ekspor tuna nasional.

Target pengembangan ini diarahkan ke Pelabuhan Bungus untuk memperhitungkan potensi pembangunan fasilitas pemasaran terintegrasi yang mendukung peningkatan ekspor hasil produksi tuna dari sentra baru selain Bali dan Jakarta.

Direktur Pemasaran Luar Negeri pada Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DKP Saut P. Hutagalung menuturkan sumber daya perikanan tuna di Bungus cukup besar. Namun, ekspor tuna langsung masih terganjal karena minim fasilitas.

"Selama ini dari Bungus harus dibawa dulu ke Jakarta karena tidak ada kargo besar. Karena itu, kami bawa UNIDO ke sana untuk memproyeksi bagaimana pengembangan yang optimal agar ada jalur pemasaran yang langsung dari sana," katanya kepada Bisnis, pekan lalu.

Eksploitasi perikanan tuna di Bungus sendiri diperkirakan lebih dari 1.000 ton per tahun. Namun, dari angka produksi itu tak lebih dari 30% yang diekspor langsung dari Sumbar akibat keterbatasan kargo udara.

Saut mengatakan mayoritas tuna produksi Sumbar harus dibawa ke Jakarta sebelum diekspor ke negara lain. Akibatnya, biaya pengangkutan melonjak sekitar 40% sehingga harga produk kurang kompetitif.

"Kalau ini bisa dikembangkan, dibangun fasilitas yang terintegrasi, tidak mustahil nanti Bungus seperti Bali. Sehingga semua produksi tuna bisa dikapalkan atau diekspor langsung."

Sayangnya, Saut enggan menyebutkan berapa nilai proyek yang akan dikembangkan di Bungus tersebut. Dia mengatakan ini baru tahap awal untuk memperhitungkan nilai ekonomis pengembangan jaringan pemasaran di salah satu sentra tuna nasional itu.

Jaminan mutu

Tahun lalu, Bisnis mencatat ekspor tuna dari Sumbar sempat ditolak Jepang karena kualitas produk yang tidak memenuhi syarat.

Dari sekitar 1.073 ton produksi tuna, sekitar 30% di antaranya tidak bisa masuk ke pasar Jepang karena tidak memenuhi standar. Karena tidak ada jaminan mutu, kini ekspor langsung dari Bungus ke Jepang dihentikan.

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis