Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Selasa, 19/08/2008
Terumbu karang rusak, negara bisa rugi Rp20,4 triliun/tahun
JAKARTA: Potensi kerugian ekonomi nasional akibat kerusakan terumbu karang mencapai Rp20,4 triliun per tahun dengan hilangnya nilai ekonomi sektor perikanan tangkap karena penurunan produksi perikanan.
Di sisi lain, upaya penyelamatan kerusakan terumbu karang terus dilakukan di beberapa daerah. Dalam rangka itu, Bank Dunia telah mendukung program konservasi terumbu karang dengan nilai hingga US$60 juta.
Hal itu ditegaskan Sekretaris Eksekutif Program Penyelamatan Terumbu Karang (Coral Reef Rehabilitation and Management/Coremap) II Jamaluddin Jompa pekan lalu menyusul sosialisasi pelaksanaan kegiatan tersebut yang telah memasuki tahun keempat.
"Potensi kerugian ekonomi negara karena kerusakan terumbu karang mencapai Rp20,4 triliun per tahun. Dengan biaya konservasi US$60 juta dari World Bank, apakah ini mahal untuk penyelamatan itu?" katanya.
Dia menegaskan potensi ekonomis dari terumbu karang terdegradasi mencapai Rp5 triliun per tahun. Sementara dari laut dengan terumbu karang terkelola bisa mencapai Rp25 triliun per tahun.
Dengan hamparan terumbu karang di perairan nasional dengan luas mencapai 60.000 ha, Indonesia kehilangan Rp20,4 triliun per tahun karena kawasan terumbu karang yang tidak dikelola dengan baik.
Menurut dia, kondisi terumbu karang di dalam negeri mayoritas mengalami kerusakan karena berbagai faktor seperti penangkapan ikan dengan bahan peledak dan sianida serta efek pemanasan global (coral bleaching).
Jompa pernah mengungkapkan penangkapan ikan secara ilegal dengan bahan peledak dan sianida yang tidak terkendali akan menimbulkan kerugian di perairan nasional sekitar US$616 juta dalam jangka waktu 10 tahun ke depan.
"Hampir 90% ikan-ikan yang ditangkap nelayan itu berhabitat di karang. Jadi menangkap ikan dengan bom atau bius sianida secara langsung menghancurkan terumbu karang. Kerugian yang ditimbulkan lebih dari US$600 juta," tuturnya.
Dia memerinci nominal kerugian itu diperhitungkan dari penurunan sumber daya perikanan akibat kerusakan terumbu karang yang menjadi habitat ikan-ikan karang yang berkisar Rp15 juta per hektare.
Penangkapan dengan bahan peledak, lanjutnya, menimbulkan kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan penggunaan racun sianida. Akibatnya dalam jangka waktu 20 tahun sejak 2000, kerugian secara ekonomis diperkirakan mencapai US$570 juta.
Sementara itu, penangkapan menggunakan sianida berpo-tensi menghilangkan pendapatan nelayan secara langsung sekitar US$46 juta karena luasan terumbu karang yang terkontaminasi racun tidak bisa lagi menjadi habitat ikan.
Penyebab kerusakan terumbu karang yang terbesar itu karena faktor manusia, selain coral bleaching karena pemanasan global. "Karena itu, yang terbaik untuk diterapkan di Indonesia itu penyelamatan yang berbasis kemasyarakatan."
Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Organisasi Baplan Kehutanan diubah - Penggunaan urea subsidi lampaui dosis
- Pemkab Toraja Utara tawarkan kebun kopi ke investor
- Pupukku sayang, pupukku melayang
- Dephut naikkan tarif pungutan kehutanan