Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Selasa, 19/08/2008

'RI berpeluang isi pasar domba & kambing Arab Saudi'

JAKARTA: Peluang pasar domba dan kambing Arab Saudi cukup besar, terutama sebagai hewan kurban. Dalam rangka menangkap peluang pasar itu, dua swasta dari Indonesia, PT Barelang Livestock Centre dan Lanzhou Sanyuanhe Modern Agriculture Limited Liability belum lama ini melakukan nota kesepahaman untuk menangkap peluang bisnis itu.

Berkaitan dengan itu, Bisnis mewawancarai Preskom Lanzhou Sanyuanhe Modern Agriculture Limited Liability Chen Guang Ren seusai penandatanganan kerja sama, yang juga disaksikan Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah Alwi Shihab. Berikut petikannya.

Bisa Anda jelaskan nota kesepahaman apa yang ditandatangani antara Lanzhou dan Barelang yang akan melakukan ekspor kambing serta domba ke Kerajaan Arab Saudi?

Kerja sama itu berupa rencana mengisi pasar domba dan kambing Kerajaan Arab Saudi. Ekspor perdana untuk hewan kurban itu rencananya mulai Oktober dan nilainya mencapai US$250 juta. Kami dan Barelang akan mengekspor 1 juta ekor kambing dan domba selama tiga tahun.

Bagaimana bentuk kerja sama tiga pihak antara perusahaan Anda, Barelang dan mitra bisnis dari Arab Saudi?


Lanzhou akan membantu Barelang untuk membangun pusat peternakan domba dan kambing di Indonesia, sedangkan Arab Saudi membantu dalam bidang dana. Pusat peternakan itu akan di bangun di beberapa pesantren Indonesia a.l. Yogyakarta, NTB, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Berapa banyak bantuan kambing yang akan diberikan kepada setiap pesantren?


Nantinya setiap pesantren memperoleh 1.000 ekor kambing. Tahap pertama akan didistribusikan 60.000 ekor kambing, dan domba kepada empat daerah. Tiap daerah akan ditunjuk 10 pesantren .

Bagaimana sistem bagi hasil yang akan diperoleh pesantren yang mengelola hewan ternak tersebut?


Model kerja sama menerapkan sistem bagi hasil syariah. Namun, kerja sama pengelolaannya mirip dengan pengelolaan koperasi. Tiap hewan yang melahirkan anak dibagi rata dan induknya dikembalikan kepada perusahaan atau koperasi yang mengelolanya.

Apa kelebihan yang dimiliki Lanzhou?


Lanzhou merupakan perusahaan yang sudah cukup berpengalaman dalam bisnis ternak di China. Kami saat ini mempekerjakan ratusan tenaga kerja. Kkapasitas produksi kambing dan domba serta sapi Lanzhou mencapai 10 juta ekor per tahun. Nilai jualnya mencapai 100 juta yuan. Hasil peternakan itu dipergunakan untuk kebutuhan lokal sebesar 60%, selebihnya 40% diekspor ke Denmark, Belanda, Indonesia, dan Thailand.

Baiklah, apa yang mendorong Anda untuk bekerja sama antara tiga pihak itu?

Sistem tiga pihak, Indonesia, China, dan Arab Saudi, merupakan model yang sangat tepat diterapkan di Indonesia. Model kerja sama itu diharapkan menjadi sistem yang baik ke depan bagi investor yang ingin mengembangkan usahanya di Indonesia.

Selain itu, prospek bisnis peternakan di Indonesia sangat baik. Namun, pengelolaannya belum maksimal. Sebagai sesama muslim, saya ingin membantu bagaimana mengembangkan teknologi usaha peternakan menjadi lebih baik dan menaikkan target ekspor Indonesia.

Negara ini juga bisa mencontoh pola peternakan yang dikembangkan Lanzhou. Kami menerapkan sistem pembibitan yang selama 30 tahun. Perusahaan kami berhasil mengembangkan pembibitan kambing dan domba melalui bentuk koperasi yang sekarang ini berkapasitas produksi 10 juta ekor per tahun.

Saya mengharapkan kerja sama itu bisa terjalin dengan baik apalagi melihat potensi pasar domba, kambing, dan sapi Arab Saudi. Negara itu membutuhkan tujuh hingga sembilan juta ekor ternak setiap tahunnya. Artinya, Indonesia bisa menangkap peluang bisnis tersebut.

Pewawancara: Erwin Tambunan
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • 60% Pupuk bersubsidi bocor
  • BUDI DAYA
    Penyuluh pertanian RI diminati
  • BUDI DAYA
    Koperasi tani bisa salurkan pupuk
  • BUDI DAYA
    Nilai tukar petani merosot