Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 20/08/2008
Peternak unggas dongkrak produksi
JAKARTA: Menjelang musim hari raya mulai September 2008, pelaku usaha peternakan unggas mendongkrak kapasitas produksi optimal minimal 80% untuk mencukupi kebutuhan pasar domestik sedikitnya 2,8 juta ton telur per hari.
Pengusaha perunggasan meminta pemerintah menjamin pasar produk unggas tidak didistorsi dengan barang impor yang merusak harga komoditas dalam negeri.
Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P. Utoyo menyatakan produksi hasil unggas domestik, berupa daging atau karkas dan telur, dipastikan mencukupi kebutuhan.
"Stok cukup. Serapan telur nasional 2,8 juta-3,2 juta ton per hari. Jabodetabek saja sekitar 1,5 juta-2 juta ton. Ini bisa diimbangi oleh peternak karena bisa produksi sesuai dengan permintaan pasar," katanya kemarin.
Dia mengakui harga produk ini dipastikan naik menjelang puasa pada awal September mendatang. Harga dimungkinkan terus naik hingga Lebaran sesuai dengan tren harga unggas yang terjadi setiap tahun.
Menjelang puasa, kata Don, harga daging diperkirakan naik 5%-10%, sementara menjelang Lebaran nanti harga berpotensi terus naik di kisaran 20%. "Ini siklus yang biasa tahunan," ujarnya.
Ketua Harian Pusat Informasi dan Pemasaran Unggas (Pinsar) Hartono mengakui harga produk unggas dipastikan naik karena permintaan pasar, khususnya telur, akan naik hingga 100%.
"Permintaan telur biasanya naik 100% pada pekan pertama dan kedua. Biasanya untuk katering-katering dan usaha-usaha kue. Biasanya nanti permintaan sedikit menurun dan akan tampak naik lagi menjelang Lebaran." tuturnya.
Harga daging ayam saat ini berkisar Rp22.000-Rp25.000 per kilogram (kg), sedangkan harga telur bertahan di level Rp12.000-Rp15.000 per kg. Harga ini, tambah Don, berbeda di setiap produsen dan berfluktuasi di luar Pulau Jawa.
Bermasalah
Don mengharapkan perbaikan harga jual produk unggas menjelang musim hari raya ini bisa menguntungkan peternak menyusul kalangan usaha ini masih mengalami sejumlah permasalahan terkait dengan kenaikan harga ternak, bibit dan sumber daya energi.
"Pelaku perunggasan masih diterpa gejolak dari harga pakan yang tinggi, bibit, listrik, kenaikan ongkos transportasi dan pasar yang cenderung tetap lesu dengan daya beli rendah," tuturnya.
Ketua Gabungan Organisasi Peternakan Ayam Nasional (GOPAN) Tri Hardiyanto menuturkan biaya produksi sektor usaha ini kini melebihi Rp12.000 per kilogram sejak harga bibit dan pakan terus naik.
"Harga DOC stabil di level tinggi akhir-akhir ini. Ini tren musiman, kalau mau libur permintaan naik, selesai libur baru turun lagi. Naik lagi nanti kalau menjelang Lebaran. Kami berharap turunnya tidak banyak," keluhnya.
Permintaan pasar yang sedikit bergairah dua bulan terakhir, ujarnya, menuntut peternak mengoptimalkan kapasitas produksi untuk menjamin suplai pasar. Setidaknya, dia menyebutkan kinerja peternakan saat ini sudah mencapai 80% dari total kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan.
Sayangnya, kenaikan biaya produksi tidak seimbang dengan peningkatan harga pakan dan DOC. Tahun lalu, harga pakan masih berkisar Rp2.700 per kg, sementara akhir-akhir ini harga produk itu melambung hingga lebih dari Rp5.000 per kg.
Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Organisasi Baplan Kehutanan diubah - Penggunaan urea subsidi lampaui dosis
- Pemkab Toraja Utara tawarkan kebun kopi ke investor
- Pupukku sayang, pupukku melayang
- Dephut naikkan tarif pungutan kehutanan