Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 20/08/2008

Produksi tangkapan ikan di Waduk Jatiluhur meningkat

JAKARTA: Potensi tangkapan ikan di Waduk Jatiluhur, Purwakarta Jawa Barat akan terus meningkat hingga lebih dari 1,84 juta ton per tahun menyusul penebaran sekitar dua juta ekor benih bandeng di waduk itu pada pertengahan bulan lalu.

Dirjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan Made Nurdjane mengatakan sedikitnya 871 orang nelayan memanfaatkan potensi tangkapan ikan di Waduk Jatiluhur, dengan hasil tangkapan mencapai rata-rata 6,5 kg per nelayan per hari.

"Berdasarkan hasil tangkapan nelayan itu berarti dari total potensi produksi ikan di waduk Jatiluhur baru termanfaatkan sekitar 25%," katanya di Jakarta akhir pekan lalu.

Dia mengatakan selain potensi tangkapan ikan yang mencapai 1,84 juta ton per tahun pada periode 2006, juga tercatat sebanyak 4.976 unit keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur dengan rata-rata produksi mencapai 1.754 kg per unit per musim.

Namun, dari total seluruh keramba jaring apung sebanyak 4.976 unit di waduk yang juga dinamakan Waduk Djuanda itu, yang aktif beroperasi sebanyak 4.577 unit di antaranya dengan produksi mencapai rata-rata 24,084 ton per tahun.

Made mengatakan Waduk Jatiluhur sangat potensial untuk pengembangan usaha perikanan budi daya karena memiliki luas permukaan air sekitar 8.300 hektare dengan kedalaman maksimal 95 meter dan tercatat memiliki 25 jenis ikan asli penghuni waduk.

Namun, dari seluruh ikan asli itu, tidak satu jenis pun yang termasuk ikan pelagis dan pemakan plankton (plankton feeder). Padahal, ekosistem Waduk Jatiluhur sudah mencapai tingkatan kesuburan perairan yang tinggi dengan tingkat kelimpahan fitoplankton yang juga tinggi.

Karena itu, Departemen Kelautan dan Perikanan menebar dua juta ekor ikan bandeng di Waduk Jatiluhur yang merupakan jenis ikan pemakan plankton, dan habitat hidupnya diperairan yang dalam, sehingga dapat menempati bagian tengah waduk yang cukup dalam dan masih kosong ikan.

"Penebaran ikan (restocking) ini merupakan salah satu cara pengelolaan perikanan yang umumnya diterapkan di perairan waduk dalam rangka meningkatkan produksi ikan di Waduk Jatiluhur dan untuk mendongkrak perekonomian masyarakat setempat," katanya.

Menurut data Ditjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan yang bersumber dari hasil penelitian pakar Kartamihardja dan Nastiti pada 2003 menyebutkan pemerintah pada 1965-1981 telah menebar sembilan jenis ikan di Waduk Jatiluhur yaitu ikan gurame, sepat, tawes, mujair, nila, mas, tambakang, dan nilem.

Namun, hingga 1972 dari semua jenis ikan yang ditebar hanya ikan nila, mas dan tawes yang mampu tumbuh dan berkembang biak secara baik dan berdampak terhadap peningkatan produksi ikan di waduk Jatiluhur.

Direktur Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan Endi Setiadi mengatakan alam memantau penebaran dua juta ekor benih bandeng dengan harapan akan tumbuh besar pada sekitar 8-12 bulan mendatang dapat mencapai bobot 300 gram per ekor.

Jika ikan bandeng yang tertangkap kembali oleh nelayan sebanyak 30 % atau 600.000 dengan berat 300 gram per ekor, total seluruh bobotnya mencapai 180 ton.

Oleh Nurudin Abdullah
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis