Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 21/08/2008

Permintaan kecambah kelapa sawit meningkat

MEDAN: Permintaan pasar terhadap kecambah kelapa sawit berkualitas di dalam negeri setiap tahunnya terus meningkat menyusul perluasan sawit di Indonesia yang terjadi sejak dua tahun terakhir.

Media Relation Officer PT Asian Agri Zahya Saragih mengatakan meningkatnya permintaan kecambah kelapa sawit di pasar dalam negeri menyebabkan para produsen kecambah termasuk pihak Asian Agri membuat waiting list karena minat pasar tidak sebanding dengan jumlah kecambah yang diproduksi.

Hingga kini waiting list kecambah kelapa sawit produksi Asian Agri untuk kebutuhan pasar eksternal sudah mencapai 60juta. Jumlah itu merupakan permintaan yang belum bisa dipenuhi pada tahun-tahun lalu.

"Ini sudah melebihi kapasitas kecambah yang diproduksi," tuturnya kepada Bisnis di Medan kemarin.

Menurut dia, kecambah sawit yang diproduksi pihaknya per tahun-hasil Operation Research Station (OPRS) Topaz Asian Agri-hanya sebanyak 12 juta. Dari jumlah produksi itu, 60% untuk kebutuhan internal, sedangkan 40% dilempar ke pasar untuk kebutuhan eksternal yaitu perusahaan kebun sawit lainnya dan petani.

Zahya menjelaskan dilihat dari besaran persentase jumlah kecambah yang dipatok, hal tersebut dimaksud agar kepentingan perusahaan tidak terganggu. Dengan kata lain dalam pemenuhan kebutuhan kecambah pihaknya lebih mengutamakan kebutuhan internal perusahaan.

Permintaan kecambah sawit terbesar, lanjut dia, berasal dari wilayah timur Indonesia yakni Kalimantan dengan lokasi lahan tersebar meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Permintaan kecambah cukup besar dari Pulau Kalimantan, tambahnya, karena daerah itu kini menjadi kawasan pengembangan perkebunan sawit di Indonesia.

Sementara untuk kawasan Pulau Sumatra yang mencakup Provinsi Riau, Jambi, Bangka Belitung (Babel), Sumatra Utara (Sumut), Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) hingga Lampung permintaan tidak seperti ke kawasan timur.

Khusus untuk pertumbuhan permintaan pasar terhadap kecambah yang dihasilkan OPRS Topaz per tahunnya, Zahya menyebutkan, angkanya fluktuatif. Hal itu relatif terjadi mengingat pasar kini semakin selektif dalam memperoleh kecambah kelapa sawit berkualitas.

Namun sampai saat ini pasar Asian Agri cukup tinggi dengan harga jual benih Rp9.000 per kecambah.

Pada tahun ini Indonesia diketahui akan mengimpor benih kelapa sawit sebanyak 60 juta kecambah senilai Rp50 miliar, naik 100% dari realisasi 2007 akibat meningkatnya kebutuhan pasar domestik.

Adapun benih impor tersebut akan didatangkan dari tiga negara produsen benih sawit dunia yakni Malaysia, Papua Nugini, dan Kosta Rika. (k5)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis