Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 21/08/2008

Usaha penggemukan sapi tumbuh 10%

JAKARTA: Sektor usaha penggemukan sapi mencatat pertumbuhan kinerja positif sekitar 10% sepanjang Januari-Juli 2008 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu menyusul peningkatan permintaan daging sapi di dalam negeri.

Hal itu tampak pada angka impor sapi bakalan dalam tujuh bulan pertama ini yang mencapai 330.400 ekor dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu tercatat sebanyak 296.200 ekor.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Feedloter Indonesia (Apfindo) Teguh Boediyana mengakui permintaan pasar pada tahun ini memang lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Apalagi, tren musiman menjelang puasa dan hari raya Lebaran ikut menggerakkan tren kenaikan usaha penggemukan sapi di dalam negeri.

"Sampai Juli 2008, impor sapi sudah mencapai 330.400 ekor. Naik dibandingkan dengan tahun lalu karena ada pasar. Bulan-bulan ini trennya positif karena ada waktu untuk penggemukan menjelang Lebaran," katanya kepada Bisnis kemarin.

Untuk mengamankan stok menjelang Lebaran, Teguh mengatakan, impor sapi bakalan cenderung signifikan dalam dua bulan terakhir untuk memperhitungkan waktu penggemukan hingga menjelang Lebaran pada awal Oktober mendatang.

Permintaan daging di pasar domestik, kata dia, dipastikan mulai meningkat pada akhir September mendatang.

Direktur Kesmavet pada Ditjen Peternakan Departemen Pertanian Turni Rusli Sjamsudin menegaskan pemerintah menjamin ketersediaan pasokan daging menjelang puasa dan Lebaran tahun ini.

Selain mengandalkan pasokan daging lokal, dia menegaskan, pasokan daging impor dari Australia dan Selandia Baru juga dapat dilakukan jika pasar domestik kekurangan suplai dari dalam negeri.

"Stok aman. Tidak perlu impor terlalu banyak atau mempercepat pembukaan impor dari tempat lain," tegasnya menanggapi rencana pemerintah membuka keran impor dari Brasil dan Uruguay.

Saat ini, pemerintah sudah mengizinkan pemasukan daging sapi dari empat negara, yaitu Australia, Selandia Baru, AS dan Kanada.

Meski sempat terjadi kasus sapi gila (bovine spongiform encepalophaty/BSE) di Kanada awal tahun ini, Turni menegaskan pemerintah tidak perlu menghentikan impor dari negara itu karena pihak setempat telah memastikan keamanan daging impornya.

"Itu kan hanya satu kasus, belum bisa disebut outbreak," katanya.

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis