Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 21/08/2008

Indonesia pertegas komitmen konservasi penyu

DENPASAR: Pelestarian penyu laut di Indonesia mendapat apresiasi dari negara anggota The Indian Ocean and the South East Asia (Iosea) karena komitmen dan kesungguhan melakukan berbagai upaya konservasi.

Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan Indonesia telah melakukan kampanye terpadu sebagai langkah penyelamatan penyu di antaranya berbagai peraturan untuk penangkapan ikan.

"Kita memberikan sanksi berat bagi perusahaan perikanan yang terbukti melakukan penangkapan penyu baik sengaja maupun tidak sengaja," katanya seusai membuka pertemuan ke-5 Iosea kemarin.

Freddy menjelaskan penangkapan ikan dengan pukat harimau, misalnya, harus menggunakan jenis jaring turtle extrude devices (TED). Jaring jenis ini bisa membebaskan penyu dari pukat sehingga bisa kembali ke habitatnya di laut.

Begitu juga penangkapan ikan dengan memakai pancing dengan rangkaian panjang dilarang menggunakan mata kail berbentuk huruf J, melainkan dengan mata kail berbentuk huruf C.   

Selain itu, sambung Freddy, pemerintah telah menetapkan konservasi di sejumlah habitat peneluran di antaranya penyu hijau di Kepulauan Derawan, Kaltim serta penyu belimbing di Janursba Medi dan Warnon di Papua.

"Kita juga melakukan berbagai upaya berkurangnya telur akibat dimakan burung elang dan biawak serta aktivitas ilegal manusia," ujarnya.

Menurutnya, apresiasi sejumlah delegasi yang telah menyaksikan secara langsung upaya konservasi itu juga ditunjang kesungguhan Indonesia.

Langkah itu dilakukan sebagai upaya melakukan pelestarian penyu di Indonesia, karena di negara ini sedikitnya memiliki enam dari tujuh spesies penyu yang ada di sejumlah negara (dunia).

Saat ini potensi petelur penyu hijau di berbagai daerah sekitar 40.000 ekor yang selama dua bulan masing-masing induk mampu bertelur delapan kali dengan sekitar 110 butir sekali bertelur.

Hanya saja dari 1.000 telur, yang menetas hanya sekitar 2 ekor, dan  sekaligus jumlah itulah yang mampu bertahan hidup hingga dewasa.

Sekjen Iosea Douglas Hykle mengatakan dalam pertemuan hingga 23 Agustus ini para delegasi saling bertukar informasi ilmiah dan teknis untuk meningkatkan kerja sama promosi internasional. Selain itu memfasilitasi pengembangan dari rencana aksi pengelolaan dan konservasi penyu.

Pertemuan ini menurut dia juga mengidentifikasi kebutuhan program untuk mitigasi interaksi antara ikan dan penyu, perlindungan telur dan tempat betina bertelur di kawasan pantai.

Organisasi ini akan mempromosikan jaringan dan kemitraan untuk mendorong implementasi kesepakatan Iosea tentang penyu laut sebagai bagian dari aktivitas internasional dalam konservasi dan pengelolaan penyu.

Kesepakatan ini ditandatangani 28 negara dari 44 negara anggota Iosea termasuk Indonesia, dan terakhir Oman.

Iosea merupakan suatu bentuk kerja sama antarnegara yang terletak di Samudera Hindia dan Asia Tenggara serta negara lain yang memiliki perhatian terhadap pelestarian penyu dalam rangka melindungi dan melestarikan populasinya. (k2)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis