Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Selasa, 26/08/2008

Industri pakan & konsumen daging ayam

Imbas gejolak harga komoditas dan naiknya harga minyak mentah dunia, oleh kalangan industri pakan, kini mulai terasa. Kendati, kini, mulai menunjukkan tren menurun. Pasalnya, penurunan harga minyak dan komoditas itu, tidak secara otomatis menurunkan harga komoditas itu. Apalagi pembelian tidak dilakukan day per day.

Industri ini, yang di era krisis ekonomi di awal 1998 nyaris collapse, pascakrisis sempat memperlihatkan tanda-tanda menggembirakan. Tidak sekadar pulih, tapi bangkit.

Sinyal itu diperlihatkan oleh langkah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Di mana rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) CPIN pada 18 Desember 2007 menyetujui pembelian pabrik pakan ternak milik PT Central Proteinaprima Tbk senilai Rp 108,772 miliar. 

Kemudian, PT Sierad Produce Tbk (Sierad) mampu membukukan laba bersih Rp33 miliar dalam enam bulan pertama 2008, naik 2,5 kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 13 miliar.

Bahkan, kata Corporate Secretaty Sierad, Elies Lestari Setiawan, laba sepanjang enam bulan pertama 2008 itu telah melampaui laba bersih sepanjang tahun lalu sebesar Rp 21 miliar.

Laba bersih itu terutama disebabkan oleh peningkatan volume penjualan di divisi pakan ternak sebesar 25%, meski terdapat kenaikan harga jual lantaran harga komoditas sebagai bahan baku pakan terus meningkat.

Maka, saat kondisi industri ini kembali menghadapi tekanan harga bahan baku yang terkerek naik karena harga minyak dunia, ada kekhawatiran, industri ini akan goyang yang berimbas pada akan mahalnya harga daging ayam yang dipicu oleh seretnya pasokan pakan.

Kendati, menaikkan harga jual untuk mengatasi persoalan itu, pasti sulit untuk dilakukan produsen pakan dan peternak. Lantaran, belum membaiknya daya beli masyarakat, sebagai end user yakni konsumen daging ayam.

Sekjen Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Fenny Gunawan mengatakan, saat ini, misalnya, biaya peti kemas dari Jakarta ke Medan naik dari Rp8,3 juta menjadi Rp8,9 juta. Tahun lalu masih Rp7,8 juta.

Bahan baku alternatif


Kemudian, harga bahan baku, per kilogram rata-rata naik Rp1.500. "Kejadian itu, sudah berlangsung sejak awal 2008."

Mungkin, untuk mengatasi persoalan bahan baku pakan, ada usulan seperti yang dikatakan Dirjen Peternakan Departemen Pertanian, Tjeppy D Soedjana. Katanya, untuk menyiasati mahalnya harga bahan baku pakan, industri pakan di Tanah Air agar memanfaatkan sumber bahan baku alternatif dari dalam negeri.

Namun, bagaimana mengatasi persoalan biaya transportasi yang telah mengalami kenaikan?

Menteri Pertanian Anton Apriyantono sudah meminta, saat ini, agar industri pakan ternak jangan dulu menaikkan harga pakan sebelum berdialog dengan pemerintah.

Sebab, Mentan sendiri akan meminta kepada Dirjen Peternakan untuk mengundang para pelaku industri pakan ini untuk membicarakan situasi yang tengah terjadi di dalam industri itu.

Seperti diketahui, saat ini, peternakan unggas menyerap 83% produksi pakan nasional, peternakan babi menyerap 6%, ruminansia 3%, perikanan budi daya 7% , dan lainnya sekitar 1%. Dalam budi daya unggas, biaya pakan menempati porsi mencapai 70%-80% dari total biaya.

Komposisi pakan ternak sendiri terdiri dari 51,4% jagung, 18% bungkil kedelai, 5,0% tepung ikan/MBM, 7,0% corn gluten meal, premiks 0,6% , CPO (Crude Palm Oil) 2% dan selebihnya dedak (limbah penggilingan padi).

Di Indonesia, saat ini ada 56 pabrik pakan skala besar yang tersebar di delapan provinsi, yaitu Sumatra Utara delapan pabrik, Lampung, empat pabrik, Banten 10 pabrik, DKI Jakarta empat pabrik.

Di Jawa Barat terdapat empat pabrik, Jawa Tengah tiga pabrik, 17 pabrik di Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan dua pabrik. Kapasitas produksi dari seluruh pabrik terpasang 11,03 juta ton per tahun.

Maka, persoalan di industri peternakan menjelang puasa dan hari raya keagamaan tidak boleh dibiarkan, harus dituntaskan segera. Agar harga daging ayam tetap terjangkau di tengah masyarakat yang daya belinya belum menggembirakan.

Ini dilakukan agar populasi ayam pedaging pada 2008 yang diprediksi naik sebesar 1,5 miliar ekor dari 2007 yang hanya sebesar 1,2 miliar ekor, terjadi.

Termasuk prediksi produksi pakan ternak yang diperkirakan mencapai 8,23 juta ton atau naik sekitar 7% dibandingkan dengan 2007 sebesar 7,7 juta ton.

Namun, seperti dikatakan Mentan, pemerintah perlu melakukan langkah. Terutama komitmen pemerintah untuk membantu kelancaran distribusi bahan pangan itu. Namun, soal kenaikan biaya transportasi, rasanya, perlu dicarikan solusinya, agar saat puasa dan menjalani hari raya masyarakat pun nyaman. (martin.sihombing@bisnis.co.id)

Oleh Martin Sihombing
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis