Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 27/08/2008

Perhutani hibahkan lahan 14.000 ha
PTPN VI garap hutan tanaman industri

JAKARTA: PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI mendapat  hibah lahan seluas 14.000 hektare dari Perum Perhutani untuk dijadikan hutan tanaman industri (HTI) untuk tanaman karet.

Meneg BUMN Sofyan A. Djalil mengatakan saat ini PTPN VI dan Perhutani masih menyelesaikan proses pengalihan lahan tersebut. Lokasi lahan berada di Provinsi Jambi.

"Dalam waktu dekat akan ada pengalihan kepemilikan lahan dari Perhutani ke PTPN VI. Langkah itu bagus untuk mengoptimalkan produksi karet di BUMN perkebunan tersebut," katanya kemarin.

Dana yang dibutuhkan untuk pengembangan lahan hibah itu mencapai Rp40 juta per hektare. Dengan mengacu pada nilai tersebut, PTPN VI butuh dana sebesar Rp560 miliar untuk mengembangkan tanaman karet di lahan hibah itu.

Direktur Utama PTPN VI Iskandar Sulaiman mengatakan saat ini pihaknya menggelar pembicaraan dengan sejumlah bank guna mendapatkan pinjaman. Beberapa bank, terutama bank BUMN, menyatakan siap mengucurkan pinjamannya ke perseroan.

"Kami masih melakukan pembicaraan dengan beberapa bank. Bank-bank yang berminat cukup banyak, tetapi kami belum bisa menyebutkannya," tuturnya.

PTPN VI mulai berdiri sejak 1996, yang merupakan penggabungan PTPN III, IV, VI dan VIII yang berada di wilayah Provinsi Sumatra Barat dan Provinsi Jambi. Sejauh ini perseroan memiliki kebun seluas 90.122,14 hektare. Dari jumlah itu, 65,76% berupa kebun plasma dan 34,24% kebun Inti

PTPN VI juga memiliki beberapa lini usaha perkebunan, yaitu 17 unit perkebunan yang meliputi budi daya kelapa sawit, karet, dan teh. Selain itu, perseroan juga memiliki empat unit pabrik pengolahan kelapa sawit, tiga unit pabrik pengolahan karet, serta dua unit pabrik pengolahan teh.

BUMN perkebunan ini juga memiliki anak perusahaan, yaitu PT Bukit Kausar yang didirikan pada 1999. Anak perusahaan perseoran ini bergerak di perkebunan kelapa sawit.

Diversifikasi bisnis


Dalam situs resmi PTPN VI, disebutkan perseroan akan melakukan diversifikasi bisnis dengan memasuki usaha pengelolaan HTI, baik melalui perusahaan patungan maupun secara mandiri.

Dalam kesempatan itu, Sofyan Djalil juga mengatakan saat ini momen PTPN III, IV, dan VII untuk go public semakin menyempit seiring penurunan harga crude palm oil (CPO/ minyak kelapa sawit mentah).

"Karena itu momen yang tinggal sedikit ini harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh PTPN yang akan go public."

Direksi PTPN VI, Juli lalu, mengatakan akan membuka areal perkebunan kelapa sawit baru seluas 8.000 ha di Sarolangun, Jambi, yang ditargetkan terealisasi dalam 2008.

Direktur Produksi PTPN VI, Refendi Sibagariang menyebutkan pembukaan lahan baru itu dipastikan akan dilaksanakan 2008 dan lahannya sudah tersedia.

Menurut dia, pembukaan lahan kebun baru di Sarolangun akan menambah luas kebun sawit PTPN VI dari sebelumnya 99.000 ha menjadi 107.000 ha. (Martin Sihombing) (bambang.jatmiko@bisnis.co.id/ munir.haikal@ bisnis.co.id)

Oleh Bambang P. Jatmiko & M. Munir Haikal
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis