Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 27/08/2008

Industri karet mulai resah soal bahan baku

Soal karet, fakta yang disajikan, Indonesia memperlihatkan angka yang menggiurkan. Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Suharto Honggokusumo, mengatakan pada 2007 produksi karet Indonesia mencapai 2,55 juta ton atau naik sekitar 5,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia menjadi negara kedua sebagai produsen karet terbesar di dunia setelah Thailand, yang produksinya tahun lalu mencapai 2,97 juta ton.

Kemudian, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memprediksi Indonesia akan menjadi produsen karet terbesar dunia pada 2015 mengalahkan Thailand.

"Saat ini, perbedaan produksi karet alam antara Indonesia dan Thailand semakin kecil, sehingga diperkirakan Indonesia menjadi produsen karet terbesar di dunia pada 2015," kata Suharto Honggokusumo dihadapan para pelaku bisnis yang hadir pada pemaparan pameran dagang internasional plastik dan karet, ASEANPlas, belum lama ini.

Dengan pertumbuhan produksi sebesar 5% per tahun, maka Indonesia bisa menjadi negara produsen terbesar di dunia pada 2015. Hal itu didukung oleh kondisi geografis Indonesia di lintas khatulistiwa yang cocok untuk tanaman karet.

Sementara itu, tren produksi karet Thailand menurun. Produksi 2007 Thailand sebesar 5,3% lebih rendah dibandingkan dengan 2006 yang mencapai 3,13 juta ton. Produksi karet di Malaysia, pun turun sebesar 5,4% pada 2007 menjadi 1,21 juta ton dari sebelumnya 1,28 juta ton.

Saat ini, Indonesia menguasai sekitar 28% produksi karet dunia, yang produksinya sebagian besar diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, China, Singapura, Korea Selatan, Jerman, dan Kanada.

Belum lagi menyimak pernyataan Mentan Anton Apriyantono. Dia mengatakan Indonesia memiliki lahan perkebunan karet paling luas di dunia. Dari segi produksi, Indonesia yang pada 2006 tercatat 2,6 juta ton, hanya kalah dibandingkan dengan Thailand, yang menempati posisi teratas dengan tiga juta ton.

Ketika membuka Konferensi dan pameran hasil perkebunan Karet yang melibatkan 500 peserta dari sejumlah negara penghasil dan pembeli karet, dia menyatakan Indonesia memiliki hamparan perkebunan karet seluas 3,3 juta hektare, 85% di antaranya perkebunan rakyat.

Namun, kita menjadi terkejut. Dari Medan terkuak fakta, tahun ini, pabrik-pabrik karet (crumb rubber) Sumut dikhawatirkan terancam tutup karena kesulitan pasokan bahan baku. Industri karet Sumut sangat bergantung pada pasokan dari provinsi lain seperti Riau, Jambi, Bengkulu dan lainnya. Menurut data dari Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, sekitar 65% bokar yang diolah pabrik crumb rubber berasal dari luar Sumut.

Perkebunan rakyat


Kita menjadi heran bukan hanya karena itu terjadi di Sumut, yang menjadi salah satu sentra produksi karet Indonesia. Namun, lantaran setahu kita Pemerintah Indonesia menggelar program revitalisasi perkebunan termasuk karet yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan perkebunan melalui program rehabilitasi perkebunan.

Di sana bahkan ditegaskan (Pasal 2), Program Revitalisasi Perkebunan dilakukan untuk memperluas, meremajakan dan merehabilitasi tanaman perkebunan rakyat di wilayah pengembangan baru maupun lama dengan teknologi maju agar mampu meningkatkan lapangan kerja baru, meningkatkan produksi dan daya saing dengan mewujudkan sistem pengelolaan usaha yang memadukan berbagai kegiatan produksi, pengolahan, dan pemasaran hasil.

Apalagi, Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian Achmad Mangga Barani mengungkapkan usulan program revitalisasi perkebunan yang baru beberapa bulan digulirkan sudah melebihi target.

Luas areal yang ditargetkan untuk program revitalisasi 2006-2010 seluas 2 juta ha, sampai saat ini sudah diterima usulan seluas 2,3 juta ha yang terdiri dari kelapa sawit 1,9 juta ha, yang berasal dari usulan 18 provinsi, karet seluas 213.000 ha usulan dari 11 provinsi dan kakao seluas 174.000 ha usulan dari 11 provinsi, sedangkan target untuk 2007 hanya seluas 473.000 ha.

Lalu, benarkah persoalan itu menunjukkan adanya kesenjangan supply dan demand lantaran penambahan areal kebun dengan berdirinya pabrik karet baru tak seimbang akibat revitalisasi yang lamban?

Ada kabar yang mengatakan pertumbuhan industri karet provinsi luar Sumut semakin meningkat, sementara perluasan lahan karet di daerah diperkirakan stagnan.

Di Jambi, misalnya, akan didirikan satu unit crumb rubber, dan tahun ini juga Riau akan menambah 2 unit pabrik karet dengan kapasitas masing-masing 36.000 ton/tahun.

Melihat data kebun karet Sumut dari tahun ke tahun, perluasan kebun karet Sumut 2008 ada tren (diperkirakan) stagnan. Dari data Gapkindo, 2003 luas kebun karet Sumut 477.409 ha, 2004 turun menjadi 447.555 ha, sedangkan pada 2005 meningkat tipis menjadi 479.862 ha. Hingga saat ini, luas lahan tersebut tidak banyak berubah.

Jika persoalan pada ajeknya antara permintaan dan pasokan bahan baku,  pemerintah perlu mempercepat revitalisasi perkebunan karet seluas 300.000 hektare yang semula ditargetkan hingga 2010. Termasuk mengganti tanaman karet yang rusak dan tua yang mencapai 400.000 hektare.

Namun, mungkin juga akibat harga karet yang belakangan ini menggiurkan, membuat pasokan bahan baku pabrik karet itu lebih banyak diekspor daripada untuk pasokan dalam negeri? Sejak awal tahun ini, harga karet (TSR 20) di bursa komoditas Singapura (SICOM) telah melampaui US$2,5 per kg.

Tingginya harga karet ini dipengaruhi oleh harga minyak mentah di pasaran dunia yang sudah di atas harga psikologi US$100/barel.

"Sudah cukup banyak provinsi yang menjadi sentra produksi karet sekarang, meski produk pertanian ini sesungguhnya kurang mendapat perhatian dari pemerintah," ucap Mentan. (martin.sihombing@bisnis.co.id)

Oleh Martin Sihombing
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis