Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 29/08/2008
'Ada value dari hutan yang diselamatkan'
JAKARTA: Sejak konferensi tentang lingkungan hidup di Bali pada Desember 2007, pembahasan tentang perdagangan karbon ikut dikaitkan dengan laju deforestasi di dalam negeri.
Sejumlah perusahaan asing, termasuk perusahaan yang mengklaim dirinya nirlaba, kini menawarkan kerja sama bagi pemilik konsesi kehutanan di dalam negeri untuk membantu menyelamatkan hutan dan lingkungan.
Untuk mengetahui upaya penyelamatan hutan melalui perdagangan karbon, Bisnis mewawancarai dua eksekutif perusahaan nirlaba asal Australia, KeepTheHabitate Limited, yaitu Chairperson Nigel D. Turvey dan Executive Director Habitats and Community Tricia Caswell. Berikut petikannya:
Anda mengklaim ini perusahaan nirlaba. Bagaimana anda menjalankan bisnis tanpa profit?
Nigel (N): Saya pernah bekerja di satu perusahaan kehutanan di Indonesia. Sekitar 1990-an saya melihat hutan meranti di Pulau Laut. Tahun lalu, saya datang lagi. Semua habis. Dari 43.000 hektare tinggal 4 ha saja.
Ini mengerikan. Kami ingin mengajak semua orang bisa berpartisipasi untuk menyelamatkan hutan perawan. Karena itu, kami mengumpulkan dana dari sponsor untuk digunakan para pemilik konsesi menyelamatkan hutannya dan merehabilitasi.
KeepTheHabitate bekerja secara nonprofit. Tapi kami membiayai perusahaan yang masih menguntungkan. Semua yang kami kerjakan bisa diaudit. Semua sponsor bisa memantau dan mengklaim apa yang dilakukannya untuk penyelamatan hutan.
Tricia (T): Kami ingin orang dapat terlibat dalam apa yang sedang kami kerjakan. Mereka tidak hanya menyumbangkan dananya, tetapi juga dapat mengetahui apa yang kami lakukan. Kami bertanggung jawab dengan apa yang diberikan para sponsor.
Apa yang anda tawarkan kepada perusahaan perusahaan itu?
N: Kami datang kepada perusahaan. Kami punya ide untuk mereka agar dapat menyelamatkan hutan, habitat, dan masyarakat. Tiga hal ini adalah proteksi untuk habitat, rehabilitasi, dan rencana untuk pengembangan masyarakat.
Kami bekerja sama dengan Inhutani I untuk proyek Mamuju. Kami menargetkan dapat menyelamatkan 13.000 ha hutan perawan. Kami meminta mereka untuk tidak menebang hutan.
Namun, kami harus menawarkan nilai tambah. Nilai yang mereka peroleh tidak hanya dari kayu tetapi ada premium value yang didapat dari hutan yang dapat diselamatkan, bio-diversity, dan perubahan ekonomi masyarakat setempat.
Berapa dana yang Anda butuhkan untuk proyek tersebut?
N: Untuk Mamuju saja, kami perkirakan US$6,5 juta per tahun dengan kontrak kami selama 15 tahun. Proyek ini akan kami luncurkan besok [hari ini].
Kami akan tawarkan kepada perusahaan di Indonesia. Ini proyek di Indonesia, untuk menyelamatkan hutan di Indonesia, dan mestinya melibatkan perusahaan di Indonesia juga.
Apakah sudah ada perusahaan yang siap jadi donor untuk proyek itu?
N: Dalam dunia marketing, kami harus tahu dulu produk yang akan kami jual. Kami persiapkan semua untuk Mamuju. Setelah kami luncurkan, baru kami akan tawarkan kepada perusahaan di Indonesia untuk ikut menjadi sponsor kami.
Sayangnya mekanisme perdagangan karbon ini masih sangat dini di Indonesia. Bagaimana tanggapan Anda?
T: Betul. Ini masih terlalu dini. Banyak orang yang saya temui bertanya hal yang sama kepada saya. Karena itu kami harus persiapkan ini semua agar proyek Mamuju bisa menjadi milestone sehingga orang-orang bisa menerima gagasan kami untuk menyelamatkan hutan.
Target optimistis Anda, berapa hektare hutan yang bisa anda selamatkan?
N: Untuk awal di Mamuju ini, kami melihat ada potensi 13.000 ha. Kami juga sedang merintis kerja sama dengan perusahaan lain di Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di Kalimantan ada sekitar 100.000 ha. Sedangkan di Sumatra ada sedikitnya 80.000 ha dan di Papua ada 200.000 ha yang masih mungkin diselamatkan.
Kami akan melihat Mamuju dulu. Setelah itu kami akan melanjutkan kerja sama dengan perusahaan lain.
Bagaimana tanggapan Departemen Kehutanan tentang ini?
N: Positif. Mereka menerima kami dengan positif. Saya tahu, pemerintah Indonesia juga mempunyai program yang sama untuk menekan laju deforestasi. Tetapi saya dengan mereka sendiri baru bisa mulai 2012.
Itu akan terlambat. Tidak terlalu terlambat, tetapi terlambat. Karena itu, kalau bisa kami akan memulainya terlebih dahulu melalui kerja sama dengan perusahaan.
Kami juga bertemu dengan BUMN kehutanan, kami tawarkan ide-ide kami.
Pewawancara: Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Organisasi Baplan Kehutanan diubah - Penggunaan urea subsidi lampaui dosis
- Pemkab Toraja Utara tawarkan kebun kopi ke investor
- Pupukku sayang, pupukku melayang
- Dephut naikkan tarif pungutan kehutanan