Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 04/09/2008
75.047 Ha tanaman padi gagal panen
JAKARTA: Pemerintah mengakui selama periode Januari-Agustus 2008 seluas 75.047 hektare areal tanaman padi di Indonesia mengalami puso akibat kekeringan.
Direktur Perlindungan Tanaman Ditjen Tanaman Pangan Deptan Ati Wasiati menyatakan Departemen Pertanian (Deptan) mengungkapkan, selama Januari-Agustus 2008 luas areal pertanaman padi secara nasional yang mengalami kekeringan mencapai 277.473 hektare (ha).
Menurut dia, berdasarkan laporan yang masuk hingga 1 September 2008 dari luas itu sekitar 75.047 ha tanaman padi gagal panen atau puso. "Luas tanaman padi yang terkena kekeringan tahun ini lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu," katanya, kemarin.
Pada 2007, luas persawahan padi yang terkena kekeringan mencapai 344.226 ha dengan tingkat gagal panen seluas 39.812 ha, sedangkan areal pertanaman yang mengalami kekeringan selama Musim Kemarau (MK) 2008 (April-Agustus) dilaporkan seluas 263.165 ha dan 72.858 ha mengalami gagal panen.
Menurut Ati, daerah utama yang mengalami kekeringan yakni di Provinsi Jawa Barat (141.886 ha), Banten (53.331 ha), Jawa Tengah (36.825 ha), Jawa Timur (14.570 ha) dan Sumatra Utara (6.421 ha).
Luas kekeringan yang terjadi selama MK 2008 lebih tinggi dibandingkan dengan MK 2007 yang hanya 106.450 ha begitu juga untuk tanaman yang gagal panen pada periode sama tahun lalu lebih rendah yakni 26.106 ha.
Menyinggung dampak kekeringan terhadap pencapaian produksi padi nasional tahun ini, dia mengatakan, dalam menetapkan target produksi pemerintah telah memperhitungkan faktor banjir, kekeringan maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Produksi nasional
Namun, Ati mengakui, target peningkatan produksi nasional sebesar 5% pada tahun ini kemungkinan hanya tercapai 2%.
Dia mengatakan saat ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi kekeringan di antaranya perencanaan budi daya pertanaman baik pemilihan komoditas, varietas, waktu tanam, teknik bercocok tanam maupun penanganan pasca panen.
Meningkatkan penyuluhan tentang pemanfaatan informasi iklim melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan manajemen usaha tani.
Memperbaiki sarana/jaringan irigasi primer, sekunder maupun di tingkat usaha tani dan perdesaan yang rusak serta perencanaan dan penyiapan sarana produksi terutama benih dan pupuk yang diperlukan pada Musim Kemarau 2008.
Oleh Martin Sihombing
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Organisasi Baplan Kehutanan diubah - Penggunaan urea subsidi lampaui dosis
- Pemkab Toraja Utara tawarkan kebun kopi ke investor
- Pupukku sayang, pupukku melayang
- Dephut naikkan tarif pungutan kehutanan