Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/09/2008

Emerald minati 4 perusahaan Inhutani III

JAKARTA: Investor asal Australia, Emerald Planet minati 4 perusahaan patungan milik BUMN di sektor kehutanan, PT Inhutani III yang berlokasi di Kalimantan.

Keempat perusahaan di hutan tanaman industri (HTI) tersebut sudah tidak aktif sejak 2000 menyusul dibekukannya bantuan dana rehabilitasi (DR) oleh pemerintah.

"Sekarang mereka sedang survei lapangan. Mudah-mudahan, bisa terjual dengan perusahaan tersebut," ujar Direktur Inhutani III, Sri Sediarso kepada Bisnis, kemarin.

Keempat lokasi HTI itu, menurut Sri, ditanami akasia, albasia dan gamelia. "Hutan tanaman di empat lokasi itu sudah bisa dipanen, meskipun penanamannya belum maksimal karena terhambat penghentian bantuan DR dari pemerintah," tuturnya.

Penjualan keempat perusahaan patungan itu masing-masing PT Meranti Lestari dan PT Meranti Laksana masing-masing mengelola areal seluas 15.000 ha, PT Kusuma Puspawan mengelola 7.000 ha dan PT Rimba Equator mengelola 11.000 ha.

"Harga saham per lembarnya Rp1 juta. Tapi, saya belum bisa jelaskan sekarang berapa nilai keseluruhan sahamnya," ujarnya.

Penjualan saham perusahaan patungan itu merujuk Surat keputusan Menteri Kehutanan Muhammad Prakosa No. 256/Menhut-II/2004 yang mengatur tentang Tata Cara dan Persyaratan Pelepasan/Penjualan Saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada HTI patungan.

Dalam penjelasannya, kata Sri, perusahaan HTI patungan yang tidak layak dilanjutkan ataupun terhadap perusahaan HTI patungan yang layak dilanjutkan, dapat dilakukan divestasi. Mitra swasta ataupun perusahaan swasta lain yang berminat melanjutkan pembangunan HTI dapat membeli seluruh atau sebagian saham pemerintah yang ada pada BUMN.

Program HTI

Kepala Pusat Informasi (Kapus Info) Dephut, mengatakan hingga 2009 Dephut sudah menargetkan penanaman HTI seluas 5 Juta ha. Saat ini, Dephut mengejar target percepatan pengembangan HTI hingga 15 juta pada 2012. Namun, realisasi HTI sekarang seluas 3,3 juta ha.

Dalam lima atau tujuh tahun mendatang, lanjut Masyhud, HTI akan mampu menjadi pemasok bahan baku industri kehutanan yang utama menggantikan peran hutan alam.

Direktur Bina Pengembangan Hutan Tanaman Ditjen BPK Dephut Bedjo Santosa mengatakan mendata ulang 92 unit HTI Transmigrasi yang pada 1993 diberikan hak kepada 91 unit usaha me-ngelola areal seluas 2,8 juta ha. "Namun, dari  jumlah itu, hanya 30% atau 1,2 juta ha yang ditanami," tuturnya.

Dephut akan melakukan verifikasi perusahaan mana yang masih layak diteruskan dan mana yang harus dicabut izinnya. "Masalah HTI Trans ini sudah lama belum juga tuntas," ujar dia. (erwin.tambunan@bisnis.co.id)

Oleh Erwin Tambunan
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis