Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 05/09/2008
4 Buah eksotis RI boleh diekspor ke China
JAKARTA: China kini menerima ekspor empat jenis buah eksotis dari Indonesia, yaitu salak, pisang, duku dan manggis, menyusul harmonisasi tindakan karantina sanitary and phytosanitary (SPS) dua negara.
Kesepakatan impor protokol tersebut ditandatatangani wakil dua negara yaitu Kepala Badan Karantina Pertanian Departemen Pertanian Syukur Iwantoro dan Wakil Menteri Administration of Quality Supervision and Inspection Quarantine (AQSIQ) China Wen Chuanzhuong di Jakarta kemarin.
Syukur mengatakan berdasarkan kesepakatan tersebut buah eksotis dari dalam negeri sudah bisa diekspor ke negara itu. Namun, realisasi ekspor akan dilakukan langsung secara bisnis oleh pelaku usaha terkait.
"Setelah impor protokol ini ditandatangani, buah sudah bisa masuk ke China. Pertama mulai dari salak dan beberapa jenis buah lainnya menyusul," katanya seusai penandatanganan kesepakatan dua negara itu.
Selain impor protokol, dua negara juga menyepakati tindakan harmonisasi SPS dua negara. China dan Indonesia akan membentuk kelompok kerja di bidang karantina tanaman dan bekerja sama dalam hal riset terkait.
Wen Chuanzhuong mengungkapkan buah eksotis Indonesia sangat menarik karena tidak bisa diproduksi di negaranya.
"Iklim dan temperatur yang unik berpengaruh pada produksi buah eksotis yang juga unik di Indonesia. Ini tidak bisa kami produksi di dalam negeri," katanya.
Dia menegaskan pihaknya menyambut baik kerja sama dua negara ini. Dengan harmonisasi dan tindakan karantina, dia juga berharap ekspor buah China ke Indonesia dapat ditingkatkan.
Pada kesempatan yang sama, Dirjen Hortikultura Deptan Achmad Dimyati mengatakan pihaknya tengah menyiapkan sejumlah sentra buah-buahan di dalam negeri untuk memenuhi permintaan China.
"Dengan jumlah penduduk 1,3 miliar, China adalah pasar yang sangat potensial. Total produksi kita saja tidak akan cukup. Banyak pesaing. Tetapi salak, kita masih punya produk terbaik meskipun Thailand dan Malaysia sudah mulai tanam."
Selain mengoptimalkan produksi, Achmad menambahkan pemerintah juga akan mengoptimalkan pengendalian mutu melalui penerapan budi daya yang baik (good agriculture pratices/GAP).
Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
DPR kecewa soal pupuk - BUDI DAYA
China minati industri biodiesel - Industri sawit dalam alam krisis
- Mampu ekspor 3 juta ton
RI incar pasar jagung di Malaysia & Taiwan - Areal kebun sawit ditambah 300.000 ha