Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 08/09/2008
Ekspor buah tropis ke China harus lewat perusahaan terdaftar
JAKARTA: Mulai tahun depan, ekspor produk hortikultura nasional, khususnya buah tropis, ke China hanya bisa dilakukan oleh perusahaan terdaftar yang telah mendapatkan registrasi kebun dan pengemasan oleh pemerintah.
Hal itu diperlukan untuk mengendalikan mutu produk ekspor menyusul kesepakatan dua negara yang ditandatangani oleh Badan Karantina Pertanian dengan Administration of Quality Supervision and Inspection Quarantine (AQSIQ) China di Jakarta pekan lalu.
Dirjen Hortikultura Achmad Dimyati mengakui China meminta hanya eksportir terdaftar yang boleh mengekspor produknya ke Negeri Tirai Bambu itu. Karena itu, lanjutnya, pemerintah kini mempersiapkan hal itu.
"China meminta begitu. Jadi nanti ada semacam nomor registrasi perusahaan pengemasan dan kebun. Untuk sekarang ini memang belum. Makanya mulai sekarang kami akan melakukan registrasi," katanya seusai menyaksikan penandatanganan tersebut.
Saat ini baru sekitar 564 kebun yang telah teregistrasi oleh Departemen Pertanian. Kebun yang mayoritas untuk produksi salak itu memiliki luas total 48 hektare.
Namun, kata Dimyati, belum ada perusahaan pengemasan yang telah didaftar oleh pemerintah. Kendati demikian, dia mengakui proses pendataan itu dapat dilakukan dalam waktu dekat sehingga tidak akan menjadi kendala ekspor hortikultura ke China menyusul ditandatanganinya impor protokol dua negara untuk sejumlah produk hortikultura.
Apalagi, tambahnya, pemerintah telah melakukan sosialisasi cara pertanian yang benar (good agriculture practices) di sektor budi daya hortikultura di dalam negeri. Hal ini, ujarnya, sejalan dengan pengembangan sejumlah kawasan hortikultura terpadu.
"Itu tidak lama. Sekarang sudah ada kebun yang diregistrasi. Jadi nanti bersama dengan pengembangan kawasan-kawasan hortikultura, registrasi semacam ini juga bisa dilakukan. Jadi ini tidak masalah."
Mulai ekspor
Dengan kesepakatan impor protokol, Indonesia berkesempatan mulai mengekspor produk hortikultura ke China untuk empat komoditas utama, yaitu salak, pisang, duku, dan manggis.
Selanjutnya, beberapa produk lain juga akan diekspor a.l. mangga, pepaya, durian, dan sawo.
Kepala Badan Karantina Pertanian Syukur Iwantoro mengungkapkan dengan kerja sama dua negara di bidang karantina akan memudahkan perdagangan hortikultura antarnegara terkait dengan hambatan nontarif.
"Misalnya jika ditemukan hama atau penyakit mengganggu, ini dapat diselesaikan oleh dua negara karena sudah ada kesepahaman seperti ini. Hortikultura itu kan rentan dengan isu lalat buah. Jadi dengan harmonisasi ini akan mempermudah kalau terjadi permasalahan."
Dia menambahkan dua negara juga sepakat mengadakan kerja sama penelitian terkait dengan karantina tumbuhan. Salah satunya, kata Syukur, penelitian terkait dengan zat kimia fumigasi menyusul pelarangan penggunaan methyl bromida.
China, ujarnya, sudah mulai mengadakan penelitian untuk mencari bahan fumigasi pengganti methyl bromida. Melalui kerja sama ini, tuturnya, dua negara dapat bertukar teknologi di bidang terkait. (aprika.hernanda@bisnis.co.id)
Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Organisasi Baplan Kehutanan diubah - Penggunaan urea subsidi lampaui dosis
- Pemkab Toraja Utara tawarkan kebun kopi ke investor
- Pupukku sayang, pupukku melayang
- Dephut naikkan tarif pungutan kehutanan