Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 06/10/2008
Ekspor kayu ke AS akan terpukul
JAKARTA: Krisis finansial di Amerika Serikat diprediksi memengaruhi neraca ekspor panel kayu Indonesia ke negara tersebut, meskipun nilai perdagangannya tidak signifikan jika dibandingkan dengan Jepang.
"Krisis keuangan dan ekonomi di negara itu diperkirakan memengaruhi perdagangan plywood kita, meskipun nilai perdagangannya tidak besar jika dibandingkan dengan ke Jepang," ujar Wakil Ketua Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo), Abbas Adhar kepada Bisnis, kemarin.
Menurut dia, penurunan permintaan produk plywood itu belum dirasakan sekarang ini. "Paling tidak dalam waktu dua atau tiga bulan ke depan, pengaruhnya baru bisa dirasakan para pengusaha yang selama ini mengekspor plywood ke sana," tambahnya.
Dampak itu terjadi, lantaran krisis sektor keuangan itu, lanjutnya, disebabkan kredit perumahan (subprime mortgage). "Melambatnya pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor perumahan itu, otomatis membuat permintaan terhadap plywood juga menurun," katanya.
Turunnya permintaan plywood, tambahnya, sedikit banyak akan turut menyulitkan upaya industri di Tanah Air untuk bangkit dari keterpurukan. "Sebab, sampai saat ini, iklim usaha kehutanan belum membaik," tuturnya.
Sebelumnya, Abbas mengatakan, realisasi ekspor plywood Indonesia 2005 sempat melonjak hingga mencapai 3,4 juta m3. Terbesar atau 1,4 juta m3 diekspor ke Jepang, berikutnya Timur Tengah sebesar 651.640 m3 China sebesar 146.927 m3, disusul Taiwan 257.290 m3 dan Amerika Serikat 229.499 m3.
Namun, pada 2007, ekspor plywood ke Jepang mencapai 789.132 m3, Timur Tengah 338.726 m3, dan Amerika Serikat tinggal 170.700 m3.
Dibandingkan dengan ekspor pada periode Januari hingga Desember 2005, volume ekspor pada periode Januari-Desember 2006 turun sebesar 9,08% dan bahkan periode Januari hingga Desember 2007, turun sangat drastis hingga mencapai 45,35% (dibandingkan ekspor 2005).
Namun, kini, peluang ekspor plywood ke Jepang mulai terbuka kembali akibat berkurangnya pasokan ekspor dari Malaysia ke negara tersebut.
Harga kayu
Abbas menjelaskan saat ini harga bahan baku kayu bulat masih tetap tinggi, mencapai US$160 per meter kubik ( m3). "Kalaupun ada penurunan harga, paling rendah US$130 per m3, sedangkan biaya produksi log mencapai US$120," katanya.
Harga log itu, ungkapnya, mendorong industri plywood menggunakan bahan baku kayu jenis cepat tumbuh (fast growing species). Kayu fast growing species itu a.l. sengon dan jabon.
"Banyak digunakan untuk bahan baku plywood, sementara untuk face and back menggunakan kayu keras dari hutan alam," katanya.
Oleh Erwin Tambunan
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Organisasi Baplan Kehutanan diubah - Penggunaan urea subsidi lampaui dosis
- Pemkab Toraja Utara tawarkan kebun kopi ke investor
- Pupukku sayang, pupukku melayang
- Dephut naikkan tarif pungutan kehutanan