Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 08/10/2008

Krisis AS pengaruhi kinerja ekspor perikanan

JAKARTA: Gonjang-ganjing krisis perekonomian di AS diperkirakan berdampak terhadap kinerja ekspor produk perikanan dari Indonesia. Namun, besar kecilnya dampak tersebut, akan diketahui dalam 2 bulan ke depan.

AS merupakan pasar terbesar dari ekspor perikanan Indonesia dengan nilai mencapai US$580 juta hingga Agustus 2008, sedangkan ekspor ke Jepang mencapai US$430 juta dan ke Uni Eropa (UE) US$240 juta.

Produk perikanan terbesar adalah udang yang mencapai 55% dari total ekspor ke negara tersebut, sedangkan 35% merupakan produk ikan laut nontuna dan 10% tuna.

"Pengaruh dari buruknya perekonomian AS terhadap produk perikanan kita pasti ada. Ekspor produk perikanan kita ke AS besar, 50% dari total ekspor produk perikanan," kata Direktur Pemasaran Luar Negeri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Saut P Hutagalung, di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, seberapa besar pengaruh krisis ekonomi di AS terhadap ekspor produk perikanan Indonesia belum dapat diketahui secara pasti. Namun, dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan dapat diketahui berapa besar pengaruhnya terhadap Indonesia.

"Seberapa besar pengaruhnya kita belum tahu. Dua atau tiga bulan ke depan baru dapat dilihat dampaknya seberapa besar, saat kontrak baru yang mulai berlaku," ujarnya.

Menurut Saut, kontrak perikanan dilakukan tidak dalam jangka waktu panjang mengingat produk tidak bisa bertahan lama, berbeda dengan produk migas yang dapat disimpan lama. Karena itu, dalam dua atau tiga bulan ke depan baru dapat diketahui nilai kontrak perikanan dari AS.

Dalam mengantisipasi dampak dari memburuknya perekonomian AS tersebut Indonesia bersiap melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor perikanan guna mengantisipasi dampak negatif krisis ekonomi AS.

"Pasar Amerika, Uni Eropa, dan Jepang merupakan pasar utama kita, karena itu hal yang harus dilakukan adalah tetap melayani mereka dengan baik. Tidak mudah mengalihkan pasar ekspor," katanya.

Diversifikasi ekspor

Namun, dia mengatakan diversifikasi negara tujuan ekspor tidak dapat dihindari agar nilai ekspor perikanan tidak terlalu terpuruk. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, DKP mulai mencoba menjajaki pasar Timur Tengah dan Eropa Timur.

Selanjutnya, dia mengatakan pemerintah akan berupaya agar setiap eksportir atau pengolahan ikan memperoleh approval number dari Eropa. Hal ini agar produk perikanan Indonesia dapat mudah masuk ke Eropa.

"Eksportir atau pengolahan ikan yang belum dapat dari Eropa untuk bisa ekspor harus diperjuangkan approval number. Nanti setiap unit pengolahan ikan akan kita usulkan dan perjuangkan dapat itu," ujar dia.

Ketua Resource & Energy Development (RED) R.Wisnu Widjaya menyarankan agar eksportir udang ke AS meminta advance payment menjaga cash flow dan mempertahankan pasarnya ke negara tersebut.

"Eksportir udang kita bisa mempertahankan pasarnya di AS bagus. Lebih aman lagi, jika para pengusaha itu meminta advance payment untuk menjaga cash flow. Memang tidak lazim, tetapi itu penting," ujar Wisnu.

Dia menjelaskan krisis di AS menyebabkan pengusaha yang mengimpor udang dari Indonesia menghadapi kesulitan pembayaran. (aprika.hernanda@bisnis.co.id/erwin.tambunan@bisnis.co.id)

Oleh Aprika R.Hernanda & Erwin Tambunan
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis