Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 08/10/2008
Rumput laut berdayakan warga Rote Ndao
Empat lelaki dari Dusun Lutu, Desa Kuli, Kecamatan Lobalain (Lole, Ba'a dan Lain), yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari ibu kota Kecamatan Ba'a, Kabupaten Rote Ndao, bisa tersenyum. Kulit berwarna hitam dan sedikit kurus, dibalut baju dan kaos yang kerahnya masih terlihat keras. Suaranya, saat bincang-bincang di bawah tenda yang berdiri di teras rumah, terdengar jelas.
"Kenalkan," kata Yohannes Ndolu, salah satu tokoh adat di Kabupaten Rote Ndao, yang duduk menghadap utara, memperkenalkan lelaki yang duduk di kirinya.
"Johannes Amabukay, Ketua Kelompok Rumput Laut Sangga Sodak, artinya Cari Hidup," katanya. Lelaki yang disebut namanya menundukkan kepala. Lalu tersenyum.
Kemudian John, panggilan Yohannes Ndolu, memperkenalkan yang lain satu persatu. Matteus Tambaru, Ketua Kelompok Dalek Esa (Satu Hati). Godlif Tambaru, Ketua Kelompok Le Dosho atau Matahari Terbit. Wena Tambaru, anggota Kelompok Le Dosho. Yonnas Masekh, anggota Kelompok Dalek Esa. Dan, masih banyak lagi. Termasuk para istri mereka.
Dusun yang mereka huni, harus ditempuh selama 1 jam dari Ba'a. Jalan yang beraspal, diimpit bukit atau lahan yang tandus dengan jajaran pohon kedondong, di sisi jalan itu, yang tinggal batang, cabang dan ranting. Tanpa daun. Tanahnya sejenis kapur dan berkarang. Suhu sekitar 38-39 derajat Celsius.
"Dulu, kami petani padi dan bawang," ujar Wena, yang mengenakan kaos oblong berlambang salah satu partai peserta pemilu 2004 di bagian dadanya.
Usaha tersebut, tidak mampu menepis kemiskinannya. "Usaha itu, tidak mampu mengubah hidup," tuturnya. Padahal, dalam satu tahun, mereka menanam padi 2 kali dan bawang sekali.
Boleh jadi, luas lahan yang terbatas dan sumber air yang ala kadarnya, membuat mereka menjadi penganut pertanian subsiten, cukup untuk hidup mereka. Plus sulitnya transportasi untuk menggapai Ba'a, apalagi Kupang yang sebelum 2002 masih menjadi ibu kota kabupaten dan Ba'a masih menjadi salah satu kecamatan, menambah sulit keadaan.
Mereka masuk dalam kategori miskin. Anak-anak pun, tidak hanya tertinggal dalam urusan pendidikan, tetapi menjadi sesuatu yang tidak pernah dibayangkan.
Ada upaya untuk menambah income dengan cara menjadi nelayan. "Tapi, juga cukup untuk makan. Kalau ada lebih, dijual. Sebulan dapat Rp40.000," ujar Mateus.
Tak ayal, rendahnya asupan gizi pada anak-anak, membuat kawasan ini kerap dilanda kelaparan dan busung lapar pada anak-anak. Ada upaya untuk memperbaiki kesejahteraan. Rumput laut pun menjadi pilihan.
Pada 2005, produksi rumput laut kering dari ke 48 desa pantai itu mencapai 5.086 ton atau rata-rata 103,80 ton per desa. Sementara penyerapan tenaga kerja adalah 7.146 jiwa atau rata-rata 146 jiwa per desa pantai.
Belum maksimal
Namun, beberapa daerah hanya mampu berproduksi dalam jumlah yang relatif sedikit. Faktor yang sangat mempengaruhi tingkat produktivitas budidaya rumput laut adalah jumlah tenaga kerja.
Wahana Visi Indonesia (WVI), partner kerja World Vision International, datang. Studi dilakukan untuk melihat akar pohon masalah. WVI melihat laut yang terbentang di sekitar dusun itu, kenapa tidak bisa dijadikan alat untuk memperbaiki kehidupan warga Lutu secara maksimal.
"Awalnya, ada orang Jakarta datang mencari rumput laut di Rote Ndao," ujar Sugiyarto P. Atmodjo, Manager Area Development Program Rote. Keberadaan WVI, lembaga swadaya masyarakat, di kabupaten itu sudah berlangsung sejak 1990-an.
Lalu, Mateus disuruh membuat proposal berupa permohonan untuk budi daya rumput laut. Proposal dikirim ke WVI di Australia dan diterima. Lalu WVI menindaklanjuti dengan mengajak kerja sama World Bank Group-IFC Pensa (The International Finance Corporation The Program for Eastern Indonesia Small and Medium Enterprise Assistance).
Dibentuklah program WVI dengan nama Lintas (Livinghood Nusa Tenggara Timur Seafood). Mereka mulai mengajarkan budi daya rumput laut pada 2007. Mereka diberangkatkan ke Kupang untuk belajar budi daya rumput laut. Lalu membawa ilmunya ke Lutu untuk dibagikan kepada warga yang lain. Termasuk belajar di Kabupaten Sikka, NTT.
Perlahan, tetapi pasti. Pekerjaan baru ini, bukan hanya membuat menanam padi dan bawang sekadar pekerjaan sampingan. "Rumput laut satu kaveling, memberikan kami uang Rp3 juta sekali panen," ujar Godlif. Satu kaveling berukuran 50 x 30 m.
Mereka pun kini telah dijalinkan melalui program Lintas dengan Yayasan Tanaoba Lais Manekat (TLM) sebagai penampung.
Mateus mengatakan mereka kini punya modal untuk menyekolahkan anak. Bahkan mampu untuk merenovasi rumah. "Juga mampu beli televisi dan parabola," tuturnya, yang kini sudah memiliki dua kaveling dan pernah meraup keuntungan hingga Rp6 juta sekali panen.
Kini, mereka pun mengatasi kesulitan bibit sendiri. "Karena kami harus ke pulau seberang untuk membeli. Biayanya, besar," ujarnya. (martin.sihombing@bisnis.co.id)
Oleh Martin Sihombing
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Organisasi Baplan Kehutanan diubah - Penggunaan urea subsidi lampaui dosis
- Pemkab Toraja Utara tawarkan kebun kopi ke investor
- Pupukku sayang, pupukku melayang
- Dephut naikkan tarif pungutan kehutanan