Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 08/10/2008

Mentan: Hasil kajian akan disosialisasikan

JAKARTA: Mentan Anton Apriyantono mengatakan telah memerintahkan tim independen yang ditugaskan menganalisis potensi risiko pemasukan daging dari negara terjangkit penyakit tertentu untuk menyosialisasikan hasil kerjanya.

"Saya akan meminta Dirjen Peternakan Deptan agar tim itu memberikan penjelasan ke publik hasil kajiannya," kata Mentan kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.

Bahkan, katanya, sudah meminta Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Deptan melakukan diskusi mengenai zone base. "Saya minta semua orang yang pro dan kontra diundang. Wartawan bisa mendengarkan," ujarnya.

Kalangan peternakan sapi dan produsen daging di dalam negeri telah mendesak pemerintah segera menjelaskan hasil analisis risiko tim independen terkait pemasukan daging dari negara terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK).

Pemerintah harus segera mengomunikasikan hasil kajian tersebut secara transparan kepada stake holder terkait sektor peternakan di dalam negeri.

Hal itu ditegaskan Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Teguh Boediyana menanggapi pernyataan Menteri Pertanian Anton Apriyantono yang memastikan kerja tim analisis risiko independen yang dibentuk Ditjen Peternakan Deptan telah selesai.

"Pemerintah harus taat asas dalam melakukan analisis risiko sebelum mengambil keputusan. Ada kesan pernyataan Mentan bahwa tim analisis telah memberikan lampu hijau untuk daging Brasil," katanya kepada Bisnis kemarin.

Dia menyatakan setelah dilakukan analisis risiko, pemerintah harus melakukan risk communication sehingga hasil kajian tersebut disosialisasikan kepada mitra usaha terkait sebelum menjadi dasar kebijakan yang diambil pemerintah.

Teguh meminta tim tersebut mengomunikasikan secara transparan dan berkelanjutan. Apalagi, lanjutnya, hingga kini mitra usaha terkait belum mengetahui apa hasil kajian tim independen tersebut.

"Brasil itu jelas negara yang statusnya belum terbebas PMK. Apa yang dikerjakan tim analisis kami belum tahu. Kami mengingatkan agar pemerintah bijak dalam membuat keputusan."

Dirjen Peternakan Deptan Tjeppy D. Sudjana mengatakan pihaknya sudah berencana melakukan sosialisasi hasil kajian tersebut. Namun, dia belum dapat memastikan kapan akan dilaksanakan.

Dia menegaskan dalam waktu dekat ini sosialisasi akan dilaksanakan sehingga memberikan informasi kepada seluruh mitra pengusaha di dalam negeri.

Sebelumnya, Mentan Anton Apriyantono menyatakan pihaknya justru sedang merumuskan detail dan persyaratan terkait rencana perubahan kebijakan pemasukan daging dari negara terjangkit PMK. Dia mengakui pro kontra menentang rencana itu biasa terjadi.

Teguh menegaskan rencana impor daging dari Brasil harus dilakukan dengan bijak agar tidak merugikan sektor peternakan di dalam negeri.

Indonesia sendiri pernah terjangkit penyakit ini pada sekitar 1960-an yang merugikan sektor ini hingga sekitar Rp11 triliun dan membutuhkan 100 tahun untuk memastikan negara ini bebas penyakit tersebut.

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Industri sawit dalam alam krisis
  • Manado siap gelar Konferensi Laut Dunia
  • 60% Pupuk bersubsidi bocor
  • BUDI DAYA
    Penyuluh pertanian RI diminati