Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 09/10/2008

Rencana ubah kebijakan impor daging ditentang

JAKARTA: Kalangan di sektor peternakan dan produsen daging sapi menolak keras rencana pemerintah yang berkeinginan mengubah kebijakan importasi daging dari negara terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) dari country based ke zonasi menyusul tim independen telah menyelesaikan analisis risiko.

Pemerintah diminta tidak gegabah untuk mengubah kebijakan pemasukan daging sapi tersebut. Hal itu terungkap dalam pertemuan pemangku kepentingan di sektor itu di Jakarta, kemarin. Pemerintah diminta berhati-hati dalam memutuskan kebijakan terkait.

Dalam pertemuan itu hadir Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudho Husodo, praktisi Indonesian Veterinary Watch Soehadji yang juga mantan Dirjen Peternakan Deptan, anggota PDHI, importir daging, dan perhimpunan peternak sapi dan kerbau.

Jangan sok pintar

"Mentan jangan merasa lebih pintar dari menteri-menteri sebelumnya, yang justru berkeras melarang pemasukan daging dari negara yang masih terjangkit PMK. Kalau sampai diberlakukan zonasi, Mentan harus bertanggung jawab," kata Siswono, kemarin.

Indonesia yang sempat terjangkit PMK pada era 1960an, lanjutnya, mengalami kerugian besar mencapai Rp11 triliun karena sektor peternakan yang lumpuh.

Kondisi ini berpotensi terjadi jika pemerintah gegabah membuka pintu impor daging sapi dari zona-zona bebas PMK di negara yang masih terjangkit penyakit tersebut.

Hal senada kembali ditegaskan Soehadji. Menurut dia, Indonesia belum memiliki perangkat pengamanan yang mengantisipasi jangkitan PMK dari negara yang masih tertular sesuai dengan standar yang ditentukan badan kesehatan veteriner dunia, OIE.

Perubahan kebijakan itu, tegasnya, dikhawatirkan merusak nama Indonesia yang membutuhkan waktu 100 tahun untuk mendapatkan pengakuan dari OIE sebagai negara yang bebas PMK tanpa vaksinasi.

Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Teguh Boediyana mengatakan mereka tidak ingin berkonflik antarnegara. Mengingat yang ditolak tegas adalah perubahan country based  itu menjadi zonasi.

"Bukan apakah ini daging Brasil atau bukan. Kita jangan terjebak di konflik itu," tambahnya.

Mentan Anton Apriyantono mengatakan tidak terlalu risau dengan berbagai pihak yang mengkritisi kebijakannya itu.
Menurut dia, dulu sewaktu membuka impor meat bone meal (MBM) dari Amerika Serikat dan Kanada, berbagai pi-hak menentang habis-habisan.

Begitu dibuka, katanya,  malah berebut ingin mendapatkan jatah. "Soal pro kontra  akan selalu ada. Itu biasa dalam setiap keputusan apa pun," ujarnya.

Mentan mengatakan kebijakan ini tidak hanya untuk Brasil. "Semua yang memenuhi syarat yang kita minta, bisa memanfaatkan kebijakan itu," tuturnya.(aprika.hernanda@bisnis.co.id)
 
Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BUDI DAYA
    2,7 Juta ha DAS direhabilitasi
  • BUDI DAYA
    PTPN III boyong gelar Karet Award
  • BUDI DAYA
    Perikanan kekurangan penyuluh
  • Industri sawit dalam alam krisis