Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 10/10/2008
Harga pulp asal Indonesia turun
JAKARTA: Harga pulp asal Indonesia di Amerika Serikat dan Uni Eropa (UE) da-lam waktu dua bulan terakhir mengalami penurunan akibat menurunnya permintaan.
Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) M. Mansyur mengemukakan harga pulp Indonesia di Amerika Serikat sejak Agustus hingga September 2008 mulai turun di kisaran US$10 hingga US$20.
"Sejak tiga tahun terakhir, harga pulp itu belum pernah turun. Yang ada naik terus, tetapi sejak Agustus hingga September 2008, mulai terjadi penurunan harga jual," ujar Mansyur kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.
Harga pulp serat panjang di Eropa pada Agustus 2008 tercatat US$880, turun menjadi US$870 pada September 2008, sedangkan harga pulp serat panjang di AS pada Agustus 2008 tercatat US$890, turun menjadi US$880.
Adapun, harga pulp serat panjang di kawasan Asia tidak mengalami kenaikan dari harga Agustus dan September 2008 sebesar US$760.
Penurunan harga jual pulp itu, menurut Mansyur, mengindikasikan berkurangnya permintaan pulp yang selama ini cukup tinggi. "Para pengusaha pulp dan paper di Indonesia tidak begitu terpengaruh dengan kondisi di AS karena pasokan pulp terbesar ke negara itu adalah China,"ujarnya.
Namun, dia mengakui, penurunan harga jual pulp itu juga menimbulkan penurunan harga penjualan kertas ke AS. "Wajar saja jika berkurang permintaan pulp dan kertas karena kondisi krisis ekonomi."
Sementara itu, Direktur Sinarmas Group, Yan Partawijaya membenarkan adanya pengurangan permintaan pem-belian kertas di Amerika Serikat.
"Yang saya tahu, memang terjadi pengurangan permintaan, tetapi berapa angkanya saya belum dapat karena laporan keuangan 2008 belum dibuat," katanya.
Menhut M.S. Kaban mengatakan krisis ekonomi global diperkirakan tidak akan berdampak terlalu besar pada komoditas kehutanan. Namun, ekspor komoditas kehutanan diperkirakan akan mengalami sedikit perlambatan.
"Ekspor komoditas kehutanan diperkirakan bisa saja mengalami perlambatan karena permintaan pasar yang lesu. Namun, tetap saja ekspor akan ada, mereka akan tetap butuh komoditas kehutanan kita," kata Kaban kemarin.
Namun, dia mengatakan, semua yang bersifat komoditas diperkirakan tidak akan terpengaruh terlalu besar oleh krisis karena yang paling berisiko hanya yang berhubungan dengan pasar bursa.
Oleh Erwin Tambunan & Martin Sihombing
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Organisasi Baplan Kehutanan diubah - Penggunaan urea subsidi lampaui dosis
- Pemkab Toraja Utara tawarkan kebun kopi ke investor
- Pupukku sayang, pupukku melayang
- Dephut naikkan tarif pungutan kehutanan