Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 10/10/2008

Sumatra Bioscience kembangkan benih kelapa sawit hibrida

JAKARTA: Sumatra Bioscience, salah satu bagian dari PT PP London Sumatra Indonesia (Lonsum) Tbk, mengembangkan proses untuk menghasilkan benih kelapa sawit hibrida F1, yang pertama kali dan permohonon paten sudah diajukan ke Eropa [European Patent Office-EPO].

Stephen Nelson, Director of Research Sumatra Bioscience, mengatakan benih kelapa sawit F1 adalah generasi pertama keturunan dari dua kelapa sawit yang berbeda dengan genetiknya, setiap tetua mempunyai dua set kromosom yang identik.

Menurut dia, proses yang tidak melibatkan modifikasi genetika ini memungkinkan perusahaan untuk menghasilkan kelapa sawit hibrida F1, yang diharapkan berproduksi tiga kali lipat melebihi dari hasil benih konvensional.

Hal itu didasarkan pada sejarah hasil hibrida tanaman lain seperti jagung, yang mengalami peningkatan produksi sebanyak enam kali lipat sejak awal 1930.

Saat itu, sekitar 95% tanaman jagung di AS berasal dari benih hibrida. Hibrida F1 juga telah dihasilkan pada tanaman lain seperti oil seed rape, bunga matahari, sugar beet, padi, tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias.

Dia mengatakan pengembangan kelapa sawit hibrida F1 akan sangat menguntungkan dunia dan lingkungan karena kemampuan produksinya yang lebih tinggi akan berdampak pada berkurangnya lahan yang dibutuhkan untuk perkebunan kelapa sawit.

Hal itu, katanya, juga akan membantu berkurangnya lonjakan krisis kekurangan pangan dunia. Menurut perkiraan Bank Dunia, permintaan pangan dunia diperkirakan meningkat menjadi dua kali pada 2030, sementara populasi dunia diperkirakan tumbuh menjadi 3 miliar pada 2050.

Managing Director Operations Lonsum Bryan Dyer mengatakan pengembangan itu terobosan besar bagi industri kelapa sawit dunia karena peningkatan produksi per luas area akan mengurangi tekanan dalam perluasan lahan perkebunan kelapa sawit.

Klon karet

Sementara itu, Departemen Pertanian menargetkan penggunaan klon unggul karet mencapai 55% pada 2010 untuk meningkatkan produktivitas perkebunan karet dalam negeri.

Dirjen Perkebunan Deptan Achmad Mangga Barani menyatakan saat ini tingkat adopsi klon unggul tanaman karet ba-ru mencapai 40% sehingga produktivitas tanaman karet terutama dari perkebunan rakyat masih rendah.

"Oleh karena itu, kita ingin meningkatkan adopsi klon dari 40% menjadi 55% pada 2010," katanya, kemarin.

Menurut dia, penggunaan klon unggul lateks dan kayu mampu menghasilkan produktivitas lateks atau getah karet lebih dari 2.500 kg/ha/tahun, sedangkan saat ini produktivitas karet baru 993 kg/ha.

Selain itu, tambahnya, penggunaan klon unggul juga menghasilkan produktivitas kayu karet lebih dari 300 meter kubik (m3) per hektare.

Oleh Martin Sihombing
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • 60% Pupuk bersubsidi bocor
  • BUDI DAYA
    Penyuluh pertanian RI diminati
  • BUDI DAYA
    Koperasi tani bisa salurkan pupuk
  • BUDI DAYA
    Nilai tukar petani merosot