Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 19/11/2008

Produksi udang akan dialihkan ke ukuran kecil

JAKARTA: Budi daya udang nasional akan dialihkan hanya untuk memproduksi udang kecil ukuran 70 (U-70) ke bawah sehingga menghemat biaya produksi sedikitnya 30% menyusul krisis global yang menurunkan permintaan pasar atas komoditas itu.

Upaya memperkecil ukuran udang itu diperlukan untuk mengisi pangsa pasar udang kecil setelah daya beli konsumen di sejumlah negara importir a.l. AS dan Jepang melemah karena resesi.

Ketua Komisi Udang Indonesia Shidiq Moeslim menegaskan perubahan fokus produksi ini akan disosialisasikan ke seluruh usaha tambak di dalam negeri sehingga menjadi upaya nasional mengantisipasi krisis.

Apalagi, sektor perudangan kian meradang menghadapi krisis ini karena potensi penurunan ekspor yang mencapai 20% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu.

Shidiq menyesalkan langkah ini tidak dipikirkan Departemen Kelautan dan Perikanan yang seharusnya mengambil sikap untuk melindungi sektor riil di dalam negeri dari potensi kerugian karena krisis.

"Ini harus menjadi gerakan nasional. Untuk sementara krisis ini, kita hanya akan produksi udang ukuran kecil, U-70 ke bawah. Sekarang semua konsumen mencari udang-udang yang murah. Dari biasa mereka konsumsi ukuran besar, mereka mencari yang kecil."

Harga udang U-70 atau 70 ekor udang setiap pon ini memang lebih murah dibandingkan dengan harga udang ukur- an besar, seperti U-36 dan U-50, yang mencapai US$7 per pon. Namun, Shidiq menegaskan langkah ini tidak akan merugikan petambak.

Dengan memperkecil ukuran, lanjutnya, artinya masa panen juga akan lebih cepat dari biasanya yang memerlukan waktu 4 bulan, kini hanya perlu 2 bulan sampai 2,5 bulan.

Sehingga, ujar Shidiq, biaya produksi juga bisa dihemat. Terutama biaya pakan yang menyedot hingga 70% ongkos produksi udang.

"Yang paling mahal itu pakan. Kalau udang besar, artinya dia juga makan lebih banyak. Dengan memperkecil ukuran, pakan lebih sedikit. Masa panen bisa 4 kali setahun. Harga yang rendah ditambah efisiensi masih bisa memberikan margin untuk petambak."

Melemah

Untuk mengatasi pelemahan permintaan, Shidiq menuturkan dalam 2 bulan ini panen udang bulanan diperkirakan hanya se-kitar 8.000-10.000 ton, turun dibandingkan dengan rata-rata bulanan yang biasanya mencapai 10.000-12.000 ton.

Dia mengakui pemintaan pasar pada tren musiman menjelang Natal dan tahun baru yang umumnya naik pada November juga tidak akan terjadi tahun ini.

"Trennya itu naik September, Oktober, lalu November naik lagi untuk Natal. Baru Desember sedikit turun. Tetapi sekarang, tidak ada permintaan yang agresif seperti biasanya. Semua pembeli menunggu reaksi pasar."

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain