Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 19/11/2008
Stok minyak kedelai turun akan naikkan harga CPO
JAKARTA: Harga CPO diperkirakan naik pada awal 2009 dan stabil pada kisaran US$500-US$600 per ton, setelah selama beberapa bulan ini melemah hingga US$495 per ton, lantaran stok minyak kedelai pada awal semester I mulai menurun sehingga permintaan CPO akan kembali meningkat.
"Harga CPO saat ini, lantaran harga minyak bumi turun terus. Prediksi saya, 2009 bisa mencapai US$520 per ton," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki), Akmaluddin Hasibuan di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, stok minyak kedelai pada awal semester I mulai menurun sehingga permintaan CPO akan kembali meningkat sehingga harga juga terdorong naik.
"Permintaan masih ada dan stoknya mulai berkurang. Stok Malaysia sekarang 1,9 juta ton dari 2,8 juta ton. Stok kita di bawah 2 juta ton," ujarnya.
Menurut Akmaluddin, pemerintah seharusnya segera melaksanakan program peremajaan kebun sawit rakyat sehingga produksi dapat ditekan saat harga CPO sedang menurun dan pada saat harga membaik, produksi kembali meningkat.
"Sekitar 800.000 hingga satu juta hektare itu perkebunan rakyat. Masalah pendanaan menjadi penghambat, seharusnya pemerintah yang menyediakan dananya," jelasnya.
Jika pemerintah tidak mendorong dilakukannya peremajaan kebun sawit rakyat, suatu saat produksi CPO Indonesia dapat turun di bawah Malaysia. Produksi CPO Indonesia pada 2007 mencapai 16,7 juta ton, sedangkan produksi CPO Malaysia 15,82 juta ton.
Namun, pada 2008 Malaysia memprediksikan produksi CPO mereka mencapai 17,08 juta ton, sedangkan Indonesia juga akan berkisar pada angka itu.
Akmaluddin menjelaskan Pemerintah Malaysia memiliki program peremajaan kebun sawit yang terjadwal untuk mengatur suplai ekspornya. "Peme- rintah juga membuat semacam manajemen suplai agar harga CPO stabil," ujarnya.
Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan krisis keuangan yang berdampak pada ketatnya likuiditas perbankan mengakibatkan lemahnya permintaan ekspor hingga sepertiga dari biasanya. Meski demikian, permintaan akan kembali meningkat seiring dengan menipisnya stok.
"Misalnya, biasanya pembelian sekitar 1,5 juta ton akan berkurang sekitar 500.000-600.000 ton karena pembeli masih punya stok, tetapi stok makin lama semakin habis. Maka, mau tidak mau akan ada pembelian kembali. Oleh karena itu, harga tidak akan turun lagi," jelasnya.
Oleh Martin Sihombing
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
92 Pulau terancam hilang - BUDI DAYA
3 Pejabat Dephut diganti - Benahi manajemen suplai CPO
- Deptan diminta konsisten percepat swasembada daging
- Kepatuhan kapal perikanan pakai alat pantau rendah