Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 20/11/2008

RI produsen utama udang di Asia

JAKARTA: Indonesia masih akan menjadi sentra produksi udang utama di kawasan Asia, bersama dengan Thailand dan Vietnam, hingga 2010 dan menyumbang pertumbuhan produksi dunia yang diperkirakan mencapai 6% dalam 2 tahun ke depan.

Global Aquaculture Alliance (GAA), Lembaga advokasi internasional untuk perikanan budi daya, memproyeksi produksi udang Indonesia 2 tahun ke depan masih akan mengalami pertumbuhan yang bagus.

Hal itu ditegaskan President GAA George Chamberlain di sela-sela Indonesia Aquaculture 2008 di Yogyakarta. Selain Indonesia, produksi dua negara lain, yaitu Thailand, Vietnam dan China juga masih akan bagus.

"Namun, India, Bangladesh, dan Pakistan pertumbuhan produksi udangnya tidak bagus. Indonesia masih akan menjadi eksportir udang kedua setelah Thailand dengan volume 80.000 hingga 100.000 ton untuk pasar AS," katanya.

Menyinggung dampak krisis global terhadap pasar ekspor udang ke negara-negara maju, Chamberlain mengakui harga udang akan tertekan karena permintaan yang merosot.

Untuk mengantisipasi hal itu, Chamberlain menyarankan pelaku usaha perlu melakukan efisiensi dengan memangkas biaya produksi tanpa mengurangi kualitas dan keamanan pangan.

Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Iwan Sutanto menyatakan pemerintah perlu mendukung kalangan usaha sehingga menaikkan daya saing komoditas udang Indonesia melalui penurunan biaya produksi.

"Untuk mendukung hal itu, pemerintah perlu mengambil kebijakan menurunkan harga solar atau memberikan subsidi solar untuk pertambakan udang."

Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) menilai peningkatan produksi udang selama ini hanya bersifat alamiah. Pemerintah belum bisa menjalankan tugas sebagai fasilitator untuk mengembangkan potensi ini dengan berbasis industri.

"Semua bersifat alamiah. Potensi kita tidak diragukan lagi. Tetapi bisnis ini masih pra-industri. Buktinya, 80% ekspor kita masih bahan baku, belum diolah di dalam negeri," ujar Ketua MPN Shidiq Moeslim.

Berjalan optimal

Thailand saja, tegasnya, yang hanya memiliki lahan sepersepuluh dari Indonesia bisa menahan produksi 500.000 ton. Sementara itu Indonesia, hingga kini belum dapat memproduksi di atas 400.000 ton per tahun.

Menurut Shidiq, pemerintah tidak dapat mengelola potensi ini dengan baik sehingga tidak berjalan optimal. Hingga kini, ujarnya, tidak ada infrastruktur yang mendukung pengembangan budi daya udang berbasis industri.

Di sisi lain, tuturnya, target produksi udang yang dipatok pemerintah hampir dipastikan selalu tidak tercapai. Tahun ini saja, dari proyeksi produksi 410.000 ton, Shidiq memperkirakan hanya akan tercapai di kisaran 350.000 ton. (aprika. hernanda@bisnis.co.id/erwin.tambunan@bisnis.co.id)

Oleh Aprika R. Hernanda & Erwin Tambunan
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain