Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 04/12/2008
Mampu ekspor 3 juta ton
RI incar pasar jagung di Malaysia & Taiwan
Nusa Dua, BALI: Indonesia mengincar pasar ekspor jagung di Malaysia, China, dan Taiwan yang mencapai sekitar 3 juta ton menyusul angka ramalan produksi komoditas itu pada 2008 sekitar 15 juta ton.
Pemerintah tengah menyiapkan instrumen kebijakan untuk memacu ekspor jagung pipilan kering dalam jumlah besar.
"Beberapa sentra jagung, seperti Gorontalo sudah ekspor, tetapi hanya sekitar 50.000 ton. Kami sekarang sedang cari bagaimana instrumen yang pas untuk kita bisa ekspor 2,5 juta-3 juta ton dalam waktu dekat," kata Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi di sela-sela International Palm Oil Conference (IPOC) di Denpasar, Bali kemarin.
Rencana ekspor itu mendesak dilakukan karena Indonesia diperkirakan memasuki musim panen besar jagung pada Januari-Maret 2009 dengan proyeksi produksi sekitar 5 juta ton.
Angka ini 27,7% dari proyeksi produksi jagung tahun depan yang dipatok sebanyak 18 juta ton. Adapun konsumsi dalam negeri diperhitungkan hanya sekitar 10 juta ton, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pa- brik pakan ternak.
Karena itu, tambah Bayu, dalam waktu dekat pemerintah harus segera menyiapkan instrumen pemacu ekspor jagung dalam jumlah besar itu untuk mengurangi penumpukan produksi nasional yang tidak diserap pasar.
Dengan kebutuhan pakan ternak sekitar 5 juta ton, ditambah konsumsi untuk bahan makanan yang juga sekitar 5 juta ton, Indonesia masih surplus. "Kita harus cari jalan agar ekspor jagung bisa dilakukan," tuturnya.
Dia mengakui infrastruktur pendukung ekspor jagung hingga kini tidak mendukung. Alat pengeringan jagung yang ada di beberapa sentra besar hanya memiliki kapasitas total sekitar 2,2 juta ton.
Padahal, lanjutnya, jagung mayoritas diekspor dalam bentuk pipilan kering sehingga membutuhkan kapa- sitas pengeringan yang mencukupi.
Menurut dia, pemerintah harus menyiapkan ini semua dengan singkat karena 4 bulan pertama tahun depan itu produksinya besar, yang ter-besar dibandingkan dengan sebe- lumnya. "Masalahnya, banyak hal yang mesti dicarikan solusinya,"tuturnya.
Menanggapi rencana Bulog yang akan terlibat dalam pembelian jagung petani, Bayu yang juga anggota dewan pengawas Perum Bulog, mengungkapkan rencana itu masih harus dipersiapkan.
Pemerintah, tegasnya, masih akan membahas opsi yang memungkinkan untuk mengoptimalkan nilai tambah produksi jagung nasional.
"Kami kan hanya punya dua cara, apakah itu dengan regulasi atau dengan kebijakan fiskal. Kami sedang upayakan opsi yang pa-ling memungkinkan karena ini menyangkut banyak faktor," jawab Bayu. (aprika.hernanda@bisnis.co.id)
Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
92 Pulau terancam hilang - BUDI DAYA
3 Pejabat Dephut diganti - Benahi manajemen suplai CPO
- Deptan diminta konsisten percepat swasembada daging
- Kepatuhan kapal perikanan pakai alat pantau rendah