Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 04/12/2008

Areal kebun sawit ditambah 300.000 ha

Nusa Dua, BALI: Pemerintah menargetkan perluasan areal kebun kelapa sawit di dalam negeri pada 2009 mencapai 300.000 hektare (ha) dengan kebutuhan dana mencapai Rp9 triliun.

Target perluasan itu lebih dari dua kali lipat sasaran kegiatan tahun ini yang dipatok 148.000 ha dan baru terealisasi seluas 127.000 ha, atau baru 85,8% dari sasaran, hingga Oktober 2008.

Adapun, program peremajaan kebun direncanakan sesuai dengan sasaran yang disepakati bersama dengan Malaysia mulai tahun depan di areal seluas 50.000 ha di Sumbar, Sumut, dan Kalbar.

Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian Achmad Mangga Barani mengakui target perluasan tahun depan cukup optimistis dengan harapan pihak perbankan dapat mencairkan kredit revitalisasi sesuai dengan kebutuhan.

"Rencana areal itu kan harus sesuai dengan kesiapan perbankan mengeluarkan dana. Tahun ini, hanya 148.000 ha. Tahun depan kami harapkan bisa 300.000 ha untuk perluasan," katanya di sela-sela konferensi sawit di Bali kemarin.

Sepanjang 2008, lanjutnya, dana yang disediakan perbankan hanya dapat digunakan untuk memperluas areal 148.000 ha, meskipun peme-rintah sempat menargetkan pembukaan areal kebun baru hingga sekitar 400.000 ha.

Data Deptan terakhir, kata Achmad, menunjukkan realisasi kredit revitalisasi itu baru tersalurkan untuk memperluas areal hingga 127.000 ha dengan kebutuhan dana sekitar Rp31 juta per ha.

Menanggapi perlambatan investasi di sektor perkebunan pada semester kedua ini, dia mengakui dalam 2 bulan terakhir tidak ada rencana investasi ataupun realisasi penanaman modal dan ekspansi kebun baru dari perusahaan.

"Malah 1 bulan terakhir, sama sekali tidak ada rencana baru. Sekarang semua perusahaan menunggu kondisi resesi ini," ujarnya.

Komitmen investasi

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Muhammad Lutfi menyatakan komitmen investasi di sektor perkebunan hingga Oktober 2008 mencapai US$3,8 miliar baik berupa PMA maupun PMDN.

Rencana itu mencakup sekitar 6 juta ha lahan baru, terutama untuk perkebunan kelapa sawit. Sekitar 5 juta ha di antaranya dikelola perusahaan besar, sedangkan 1 juta ha meru- pakan lahan petani plasma.

Namun, dia tidak memerinci berapa realisasi komitmen investasi itu. "Berapa realisasinya, saya tidak ingat persis," katanya.

Menteri Perdagangan Mari E Pangestu mengatakan permintaan minyak sawit mentah (CPO) diprediksi meningkat sekitar 55% pada 2009 menyusul kebijakan pemerintah mendorong tumbuhnya permintaan di dalam negeri melalui keharusan (mandatory) pencampuran bahan bakar minyak dengan biodiesel sebesar 1% pada 2009 dan 5% pada 2010.

"Dengan menciptakan pe-ningkatan pasar domestik melalui keharusan penggunaan biodiesel akan mendorong penambahan permintaan CPO di dalam negeri sebesar 2,5 juta ton tahun depan," katanya.

Saat ini, total permintaan CPO nasional untuk industri pangan, terutama minyak goreng dan kosmetik mencapai sekitar 4,5 juta ton. Dengan demikian, pada 2009 permintaan CPO akan naik sekitar 55,5 persen akibat mandatory penggunaan biodiesel. Produksi CPO nasional sendiri ditargetkan mencapai 19 juta ton pada 2008.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Akmaluddin Hasibuan mengatakan pemerintah harus memberi insentif kepada industri CPO berupa subsidi pembelian CPO bagi industri biodiesel untuk menjamin pasokan CPO dan biodiesel di dalam negeri.

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain