Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 04/12/2008
Industri sawit dalam alam krisis
Akibatnya, banyak perusahaan besar terpukul. Ekspor tidak maksimal, karena PE yang besar membuat pendapatan CPO Indonesia semakin tergerus. Di sisi lain, utang mereka kepada para kreditor -bank asing maupun dalam negeri-dalam dolar AS, terus bertingkah seperti tidak mampu dibendung.
Sebutlah nama-nama besar di industri CPO, seperti Golden Agri-Resources dari Sinar Mas Group, PP London Sumatra Indonesia-yang pada 2000 shareholders-nya terdiri dari PT Pan London Sumatra Plantation 47,23%, Commerzbank (Jerman) 5,83%, Happy Cheer Ltd. 2,70%, dan lainnya (masing-masing sekitar 5%) 44,24%-lalu Astra Agro Lestari (AAL), dari Astra Group, yang kata Jan Willem van Gelder, penulis German banks and palm oil and pulp & paper in Indonesia, pada 1983 di bawah kontrol keluarga Soeharto dan sahabat dekatnya Bob Hasan, Prajogo Pangestu, dan Sudono Salim.
Saham terbesar dipegang oleh PT Nusantara Ampera Bhakti (Nusamba), yang menguasai 70% -yang terdiri dari tiga charitable foundations yang dikontrol Soeharto, 20% oleh Bob Hasan, dan 10% oleh anak tertua Soeharto, Sigit Hardjojudanto.
Kemudian kebun sawit Salim Group, yang akhirnya diserahkan ke Indonesian Bank Restructuring Agency (IBRA), dan dibeli Kumpulan Guthrie Berhad, Malaysia.
Mereka itu pemain-pemain besar sawit, sekelas Wilmar Group, yang mempunyai hubungan dekat dengan Ganda Group asal Indonesia. Ganda, saudara dari pendiri Wilmar, Martua Sitorus. Bahkan, Ganda mendapatkan dukungan dana saat akan membangun perkebunan kelapa sawit yang hasilnya disuplai ke Wilmar.
Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Ba-ngun mengakui itu. Ketika harga CPO pada 1998 mencapai US$600 per ton (CIF Rotterdam) dan mata uang Indonesia menderita karena nilai tukarnya melemah secara dramatis, tarif pajak ekspor naik 40%.
Namun, kendati PE tinggi, tidak mampu membawa harga minyak goreng di pasar lokal sesuai dengan ekspektasi publik. "So, pemerintah kembali menaikkan tax menjadi 60%," ujarnya.
Hasilnya, eksportir CPO hanya menerima US$240 per ton setelah dikurangi pajak ekspor US$360.
Barulah setelah harga CPO di pasar internasional melemah dan nilai tukar rupiah menguat, pemerintah sepakat mengurangi PE menjadi 30%, 10%, 5%, dan 3%.
Dalam regulasi baru yang diluncurkan 10 September 2005, pajak ekspor diubah menjadi pungutan ekspor yang dikategorikan pendapatan negara bukan pajak.
Namun, dalam krisis kali ini, nyaris tidak ada yang tersenyum. Sudah harga turun, demand pun nyusut. Jika boleh diperumpamakan, pada kondisi saat ini, pemain kelapa sawit seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Bahkan, banyak tandan buah segar (TBS) yang dibiarkan tidak dipetik oleh petani. Lantaran, harga TBS susut hingga Rp300 per kilogram dari semula Rp1.200-Rp1.400.
Para pemain besar pun tidak kalah mumet-nya. Akibat permintaan yang turun, baik di Indonesia maupun Malaysia, terjadi over supply. Stok bertumpuk.
Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya harus menahan diri dalam ekspansi. Dan, yang sudah ekspansi, menahan diri untuk melanjutkan penanaman.
Menurunkan PE, jelas, menjadi pilihan. Setelah diteriaki setiap hari, PE yang seharusnya sudah dinolkan, akhirnya diturunkan.
Namun, bertahap hinga akhirnya nol. Bahkan, formula penentuan PE pun diubah, terutama patokan harga batas bawah. Misalnya, jika semula PE nol bila harga CPO di bawah US$500 per ton, dinaikkan menjadi US$750.
Namun, jika boleh dibilang untung, anjloknya harga CPO saat ini, para pemain di perkebunan sawit sudah dibekali modal yang cukup. Lantaran, sebelum harga jatuh, harga naik spektakuler, hingga US$1.200 per ton.
Celaknya, harga sebesar itu, membuat pemain sawit pun tidak maksimal. Lantaran, PE pun harus naik hingga di atas 15%. Maka, harga dan keuntungan terdiskon.
Pahitnya, krisis kali ini dirasakan para pemain sawit yang perusahaannya terdaftar di lantai bursa. Saham mereka ikut tergerus. Mereka jadi seperti sudah jatuh, tertimpa tangga lalu tertimpa genteng.
Pemerintah pun mengambil tindakan, kendati lamban. Setelah harga terus tergerus, nyaris hingga ke titik nadir, mandatory 5% penggunaan biodiesel berbahan baku minyak sawit mentah dipercepat dari jadwal semula. Akibatnya, ada dorongan harga sawit dan produk turunannya, terutama CPO.
Angka bergerak ke arah US$500-an lagi kendati diwarnai fluktuatif mengikuti gerakan harga minyak mentah dunia. Maka, sering terbaca di surat kabar ini, penurunan harga minyak dunia tekan harga CPO.
Kini, sikap orang pada sawit berbalik, dari positif menjadi negatif. Sawit yang semula dijuluki green gold, dianggap kartu mati. Bahkan, saking kalapnya, ada yang memberitakan seorang istri petani sawit tewas bunuh diri akibat stres lantaran harga sawitnya terus anjlok.
Benarkah? Posisi crude palm oil sebagai bahan baku minyak goreng, tidak berubah. Sekitar 4 juta ton produksi minyak goreng di Tanah Air, tetap membutuhkan pasokan CPO.
Hingga kini, permintaan minyak goreng, belum menunjukkan tanda-tanda meng- alami penurunan. Tetap stabil.
Juga sejumlah perusahaan consumer goods seperti industri pembuatan detergen dan sabun, sampo, kosmetik, pasta gigi, industri karet dan ban, industri cat dan tinta, serta minyak diesel. Diperkirakan, untuk pasar dalam negeri, belum menunjukkan tanda-tanda berkurang.
Kondisi itu, mampu menjaga napas pengusaha CPO. Belum lagi, pemerintah bahkan Wapres Jusuf Kalla, terus mendorong penggunaan biodiesel dalam persentase yang besar agar CPO terserap. Jika program itu jalan, petani sawit pun bergembira. Harga TBS mereka pun akan terkerek naik.
Indikasi pemakaian biodiesel diperbanyak, mulai terlihat. Terutama mulai gencarnya satu perusahaan penghasil CPO sekaligus biodiesel di Dumai untuk menguasai pasar biodiesel.
Caranya, diduga, mencoba mendominasi pasokan biodiesel ke Plumpang, di mana ada bangker BBM milik PT Pertamina.
Karena itu, tidak pada tempatnya jika kemudian, dalam suasana 'dukacita' wacana penghentian ekspor dikedepankan. Itu emosi dan panik.
Namun, yang lebih cerdas adalah bukan sekadar menekan produksi pada saat pasar lesu. Lebih jauh dari itu, inilah saat yang tepat untuk me-replanting tanaman yang tua. Namun, kita tidak boleh menunggu lebih lama lagi. Inilah saatnya kita bernapas sambil introspeksi diri.
Namun, mampukah harga CPO kembali bersinar pada 2009? Banyak orang mengacu pada program biodiesel di sejumlah negara menjadi acuan harga. Jika itu patokannya, harga CPO akan membaik.
Persoalannya, saat ini, harga minyak dunia dalam posisi rendah, sehingga membuat biodiesel menjadi lebih mahal dibandingkan dengan harga BBM. Ini karena urusan teknologi.
Berita Lain
- BUDI DAYA
92 Pulau terancam hilang - BUDI DAYA
3 Pejabat Dephut diganti - Benahi manajemen suplai CPO
- Deptan diminta konsisten percepat swasembada daging
- Kepatuhan kapal perikanan pakai alat pantau rendah