Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 05/12/2008
Pupukku sayang, pupukku melayang
Bagi petani, tidak banyak hal yang diminta kepada pemerintah. Setelah bersyukur karena dikasih Yang Maha Kuasa, Tanah Air yang tongkat kayu saja bisa menjadi tanaman, mereka hanya butuh pupuk. Itu pun tidak lantas minta harga murah. Terpenting, ada dan mudah didapat, sehingga ada yang bisa dihasilkan untuk menghidupi diri dan keluarga.
Bahkan, jika untung, mereka pun tidak pernah menuntut banyak. Asalkan mampu untuk membayar kebutuhan sehari-hari, syukur bisa ditabung, sudah jauh dari cukup. Petani tahu diri. Mereka tidak pernah menjanjikan hal-hal yang mereka tahu tidak mampu dipenuhi. Kalau ada janji, itu diberikan oleh pemerintah agar mereka terus menanam agar orang kota tidak kelaparan.
Maka, jika pupuk langka, mereka ngamuk, bukan karena hitungan untung rugi. Tapi, mereka merasa hidupnya yang susah terancam tidak bisa mempertahankan hidup. Padahal, mereka ingin hidup itu berarti. Paling tidak dia mampu menghidupi diri dan keluarga.
Mereka pun tidak pernah bilang jika pupuk ada, mereka akan memilih Anda menjadi presiden. Namun, merekalah yang diminta seperti itu dengan kompensasi bantuan ini bantuan itu. Bahkan, dirinya dieksplorasi agar muncul simpati yang ujung-ujungnya memilih sang calon presiden. Itu yang biasa dihadapi petani.
Kalau kemudian pupuk langka, mereka pun tidak lantas angkat parang lalu demo ke kantor menteri pertanian atau presiden. Mereka saling berkeluh kesah lalu mendatangi kantor kepala desa. Mereka mengadukan soal kelangkaan pupuk. Tapi, kedatangan yang bersamaan itu, kerap dituding petani demo karena pupuk langka.
Hanya petani yang menguasai lahan luas yang marah kalau pupuk langka. Lantaran, keuntungan besar yang terbayang di depan mata jika panen, terancam hilang. Banyak orang kota dan pejabat yang memiliki lahan pertanian berhektare-hektare di desa.
Bahkan pernah suatu kali ada bantuan alat mesin pertanian yang dikatakan untuk petani. Ternyata, petani yang dibantu adalah pemilik lahan luas yang masih keluarga si pejabat yang memberikan bantuan itu.
Petani kecil, yang luasan lahannya maksimal 1.000 meter persegi, tidak sedikit. Jumlahnya, nyaris mendominasi kepemilikan lahan padi di Indonesia, sehingga jika mereka tidak berproduksi, maka suplai akan terganggu. Selain harga naik, impor pun akan terjadi. Dalam situasi krisis keuangan saat ini, megimpor beras merupakan kemalangan, karena menghamburkan devisa yang amat sangat dibutuhkan.
Lahan sempit
Yauri Tetanel, dari Fakultas Pertanian UGM, memaparkan 70% dari total penduduk di perdesaan yang berjumlah 21.141. 273 rumah tangga hidup dari pertanian. Sebagian besar adalah petani pangan berupa padi dan hortikultura.
Setengah dari petani itu, 50% petani yang memiliki lahan yang sempit, sehingga sebagian besar bekerja sebagai buruh tani. Bagi petani, pupuk inherent dengan dirinya.
Saya teringat membaca hasil laporan pemeriksaan subsidi pupuk PT Petrokimia Gresik (Petrogres) tahun anggaran 2005 oleh BPK pada 27 Juli 2006.
Pertama, terdapat beberapa pengecer tidak memasang papan nama sebagai kios/pengecer resmi. Kedua, harga jual pupuk bersubsidi di beberapa pengecer melebihi HET yang berlaku. Ketiga, terdapat beberapa pengecer menjual pupuk bersubsidi kepada pengecer lain, tidak langsung ke petani.
Petrokimi Gresik mengakui fakta temuan BPK dengan berbagai alasan. Bahkan, distributor dan pengecernya dihukum. Namun, itu bukti petani bukan penyebab kelangkaan pupuk. (martin.sihombing@bisnis.co.id)
Oleh Martin Sihombing
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
92 Pulau terancam hilang - BUDI DAYA
3 Pejabat Dephut diganti - Benahi manajemen suplai CPO
- Deptan diminta konsisten percepat swasembada daging
- Kepatuhan kapal perikanan pakai alat pantau rendah