Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 05/04/2008
Target pertumbuhan bisnis 2008 mencapai 20%XL raup pinjaman Rp1 triliun dari BCA
JAKARTA: PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) kembali meraup pinjaman senilai Rp1 triliun dari PT Bank Central Asia Tbk dengan tenor tiga tahun.
Saat ini, XL bernegosiasi dengan beberapa bank untuk meraih pinjaman tambahan senilai Rp1 triliun, sehingga total pendanaan eksternal mencapai US$950 juta pada tahun ini.
Pinjaman ini untuk mendukung target pertumbuhan bisnis perseroan pada tahun ini yang ditargetkan mencapai 20%.
"Kami sedang berbicara dengan beberapa bank untuk mencari tambahan pinjaman sebesar Rp1 triliun," ujar Dirut XL Hasnul Suhaimi kemarin.
Sebelumnya, lima bank telah berkomitmen memberikan pinjaman senilai total US$750 juta kepada XL yang dicairkan secara bertahap untuk belanja modal dan membiayai kembali obligasi yang jatuh tempo.
Lima bank itu adalah Bank Mandiri (Rp4 triliun), HSBC (US$50 juta), ABN Amro (US$50 juta), BCA (Rp1 triliun), dan Standard Chartered Bank (US$100 juta dan Rp1 triliun). BCA melengkapi komitmen sebelumnya sebesar Rp1 triliun sehingga dengan pinjaman baru yang disepakati kemarin total kreditnya mencapai Rp3 triliun.
Direktur BCA Dahlia M. Ariotedjo mengatakan tingkat bunga pinjaman untuk XL berdasarkan pasar.
Hasnul juga memastikan pelepasan saham XL akan digelar pada semester II. Penjualan saham (divestasi) XL sekaligus penawaran umum terbatas (rights issue) saham baru maksimal 10% diperkirakan menghasilkan dana segar US$200 juta-US$300 juta atau setara dengan Rp1,84 triliun-Rp2,76 triliun.
XL kemungkinan menunjuk dua book runner. Sejauh ini, JP Morgan Securities sudah ditunjuk menjadi salah satu book runner divestasi dan rights issue saham operator seluler tersebut.
Selain JP Morgan, sejumlah bank investasi asing seperti Credit Suisse, Merrill Lynch, dan UBS Securities juga mengincar penjualan saham XL.
Sekuritas lokal
Dia mengatakan perseroan membuka kemungkinan melibatkan perusahaan sekuritas lokal untuk menangani penjualan saham XL.
Divestasi dan rights issue saham XL itu bertujuan untuk menambah porsi saham yang dimiliki publik. Menurut rencana, penjualan saham tersebut dilaksanakan pada semester kedua tahun ini.
TM International melalui anak usaha yang dimiliki sepenuhnya yakni Indocel Holding Sdn Bhd menguasai 66,99% saham XL. TM International merupakan unit usaha Telekom Malaysia yang mengurus bisnis di luar negeri.
Hingga per 29 Februari 2008 pemegang saham XL lainnya adalah Khazanah Nasional Berhad (16,81%), Parkmix Ltd (15,97%) dan Emirate Telecommunications Corporation (Etisalat) sebesar 15,97%. Pemegang saham publik hanya disisakan sebesar 0,23%.
Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) XL kemarin mengangkat dua komisaris baru yaitu Ahmad Abdul Karim Mohd Zulfar dan Peter Chambers.
Ahmad Abdul Karim mewakili Etisalat dan Peter Chambers menjadi Komisaris Independen menggantikan Jend (Purn.) Wismoyo Arismunandar yang mengundurkan diri.
RUPST juga menyetujui distribusi dividen tunai yang dihitung dari 19,7% atas normalized net income (laba bersih setelah pajak yang disesuaikan dengan rugi selisih kurs yang belum terealisasi dan dampak rugi kurs dan pajak atas bunga obligasi dalam mata uang dolar AS) sebesar Rp721 miliar.
Bagi dividen
Dividen tunai yang dibagikan kepada pemegang saham adalah sebesar Rp142 miliar atau Rp20 per lembar, meningkat 115% dibandingkan dengan tahun lalu. Pembagian dividen ini akan dilakukan pada 16 Mei 2008.
Harga saham XL kemarin ditutup menguat 2,5% pada level Rp2.050 per saham dibandingkan penutupan hari sebelumnya Rp2.000. Apabila mengacu pada harga saham tersebut, kapitalisasi pasar XL mencapai Rp14,53 triliun.
Harga saham XL pada akhir tahun lalu sempat meroket di level Rp2.700 ketika investor asal Uni Emirates Arab yaitu Etisalat membeli seluruh saham XL dari Bella Sapphire Ventures Ltd, yang dimiliki oleh konglomerat Peter Sondakh, pada level Rp3.600 per saham. Etisalat membeli 16% saham atau 1,13 miliar saham XL senilai US$438 juta.
Jumlah belanja modal perseroan pada tahun ini, mencapai US$650 juta dengan sumber pendanaan eksternal sebesar US$350 juta dan sisanya berupa pinjaman.
Pada 2007, XL telah membelanjakan Rp 7,1 triliun untuk membangun 3.897 base transceiver station (BTS) sehingga sampai akhir tahun lalu jumlah BTS perseroan mencapai 11.157.
Tahun ini, XL mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 650 juta, dengan 80%-90% di antaranya dialokasikan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas.
Laba bersih XL pada tahun lalu anjlok 61,5% menjadi Rp251 miliar dibandingkan dengan laba 2006 sebesar Rp651,88 miliar akibat tergerus rugi kurs dan pajak (withholding tax).
Laba bersih XL menurun karena adanya pencatatan withholding tax atas bunga obligasi dolar AS senilai Rp368 miliar pada periode 2004-2007. Selain itu, perseroan juga menderita rugi kurs Rp204 miliar.
Seandainya XL tidak mencatat withholding tax dan rugi kurs tersebut, laba bersih XL tahun lalu akan mencapai Rp721 miliar atau naik 115% dari laba bersih yang disesuaikan (tanpa menghitung keuntungan valas) pada 2006 senilai Rp336 miliar. (Pudji Lestari)(munir.haikal@bisnis.co.id)
Oleh M. Munir Haikal
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- Demutualisasi bursa digulirkan
- Jasa Marga pakai capex di bawah 50%
- Asei incar kerja sama 20 bank daerah
- Inovisi incar dua proyek Rp250 miliar
- Global Mediacom gugat Mobile-8