Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 09/07/2008

Pisau bermata dua di tangan Charoen

Pangan dan energi adalah dua komoditas yang terkait dengan erat, seperti api dan asap. UN World Food Program (UNWFP) mengungkapkan kenaikan harga minyak yang menembus US$100 per barel akhir tahun lalu membuat harga pangan dunia meroket rata-rata 40%.

Menurut catatan Bisnis, kenaikan harga energi utama dunia dalam tiga tahun terakhir itu telah mencapai 160%, yang diikuti kenaikan harga pangan dunia 80%.

Seiring dengan lonjakan kebutuhan energi, manusia pun tak hanya berbagi bahan pangan dengan binatang, melainkan juga dengan pabrik yang memproduksi bahan bakar seperti bioetanol atau biofuel. Sesuai dengan rumus ekonomi, pasokan pangan pun menipis dan harga melonjak.

PBB mencatat harga komoditas jagung melonjak mencapai rekor tertinggi dalam 11 tahun terakhir, sedangkan harga kedelai mencetak rekor puncak dalam 35 tahun terakhir.

Bagi PT Charoen Pokphand Tbk yang bisnisnya terikat erat dengan jagung dan kedelai, kondisi itu menjadi pisau bermata ganda. Di satu sisi, kenaikan harga komoditas pertanian itu mendongkrak beban produksi mereka, tetapi di sisi lain permintaan pangan pun bertambah.

Kenaikan harga jagung dan kedelai menggerus margin kotor pakan ternak menjadi 8,6% dari 14,1%, sedangkan margin kotor penjualan bibit ayam (day old chicken/ DOC) Charoen mengindikasikan penurunan 1,5% menjadi 11,1%.

Analis PT Kim Eng Securities Adi N. Wicaksono menilai Charoen mengambil langkah signifikan mengantisipasi tantangan tersebut, dengan berupaya menekan biaya akibat kenaikan harga komoditas pangan.

"Perseroan fokus pada pengelolaan biaya terutama bahan mentah yang menyumbang 90% beban pokok penjualan [cost of good sold/COGS]. Perseroan mengoptimalkan divisi risetnya untuk memproduksi bahan mentah pengganti, sehingga menekan guna meminimalisasi biaya," tuturnya, dalam laporan riset per 30 Mei.

Kapasitas

Charoen juga berencana menaikkan kapasitas pengolahan dan pengeringan untuk mengelola beban lebih baik, dan menaikkan stok jagung jika harga turun sepanjang masa panen.

Sebelumnya, emiten penghasil pakan ternak itu tidak mampu mengatasi kenaikan harga bahan baku, sehingga mereka membebankan kenaikan tersebut kepada pelanggan dengan harga mendongkrak harga jual produknya.

Melihat kondisi tersebut, analis broker asing tersebut pun mempertahankan rekomendasi beli untuk saham berkode CPIN tersebut dan menggenjot target harga menjadi Rp1.420 dari target semula Rp1.200.

"Ini merefleksikan kinerja operasional yang sejalan dengan ekspektasi kami. Target harga kami menempatkan valuasi saham pada 14 kali P/E 2009, dengan kenaikan potensial 30%," tutur Adi.

Harga saham tersebut kemarin ditutup ke level Rp900, turun Rp30 dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya.

Menurut catatan Bisnis, perseroan tahun ini menerapkan target ekspansi dengan membangun pabrik pakan ternak di Makassar, dengan kapasitas produksi 300.000 ton per tahun.

Pabrik di Sulawesi Selatan itu dibangun dengan biaya Rp54 miliar. perseroan tengah menggenjot bisnis di kawasan Timur karena memproyeksikan peningkatan pendapatan masyarakat setempat akibat booming perkebunan dan pertambangan.

Dengan kehadiran pabrik baru itu, kapasitas produksi pakan ternak Charoen pun meningkat dari 3,7 juta ton per tahun menjadi 4 juta ton per tahun. Jumlah pakan sebanyak itu mampu memenuhi lebih dari 50% permintaan pakan ternak ayam di Indonesia.

Charoen tercatat memiliki peternakan bibit ayam (bredding farm) di Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Di luar itu, mereka mengoperasikan tujuh pabrik pakan ternak di Jawa dan Sumatra.

Tidak cukup dengan itu, Charoen juga menjajaki pembangunan pabrik pakan ternak di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, dan Papua.

Konsumsi


Adi memperkirakan prospek industri pangan ternak tersebut masih kuat, mengingat industri pertanian di Indonesia masih tumbuh. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Organisasi Pangan dan Agrikultur (FAO) menyebutkan pendapatan dan konsumsi ayam per kapita di Indonesia tumbuh berbarengan.

Dalam tujuh tahun terakhir, pendapatan per kapita tumbuh rata-rata tahunan (compounded annual growth rate/ CAGR) 5,3%, menjadi 6,13 kg. Pendapatan per kapita domestik diharapkan mencapai US$3.000 hingga 2011, sedangkan konsumsi ayam per kapita diharapkan mencapai 8 kg.

Prospek tersebut minimal tercermin dalam kinerja Charoen pada triwulan pertama 2008. Angka penjualan merangkak naik Rp2,8 triliun atau naik 65% dibandingkan dengan penjualan pada periode sama tahun lalu, dengan laba bersih Rp71 miliar atau naik 163%.

Penjualan pakan ternak tercatat naik 63% menjadi Rp2,3 triliun, sedangkan penjualan bibit ayam DOC melonjak 78% menjadi Rp362 miliar, dan penjualan ayam beku naik 62% menjadi Rp205 miliar.

Di tengah ekspektasi itu, Charoen menargetkan pendapatan Rp12 triliun atau meningkat 38% dari pendapatan tahun lalu sebesar Rp8,7 triliun. Laba bersih ditargetkan Rp241 miliar atau meningkat 30% dari laba bersih tahun lalu sebesar Rp185,5 miliar. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPOSE
    NISP tambah modal OCBC
  • EKSPOSE
    Peringkat obligasi XL AA
  • Mencermati laju bisnis minyak AKR
  • PREDIKSI
    Hindari tekanan, pemodal pilih saham lapis kedua