Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 09/07/2008

PREDIKSI
Indeks masih konsolidasi

JAKARTA: Perdagangan saham sepanjang pekan ini diperkirakan masih tertekan karena belum ada kepastian arah pergerakan harga komoditas dunia dan pengaruhnya terhadap kestabilan perekonomian global.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih berkonsolidasi sebelum kemudian bergerak menguat.

Analis PT Etrading Securities Suryadi Chandrakasih mengatakan kenaikan harga komoditas dunia, energi dan produk pertanian, mulai menimbulkan kekhawatiran baru terkait dengan dampak negatifnya terhadap perekonomian global.

"Kenaikan harga minyak lebih lanjut, dikhawatirkan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, menyusul kenaikan inflasi dunia. Kekhawatiran itu membuat investor menarik dananya dari pasar modal dunia," tuturnya kemarin.

Di bursa saham Indonesia, lanjutnya, likuiditas pasar tergerus sehingga nilai transaksi perdagangan harian sepekan terakhir berada di kisaran Rp2,5 triliun-Rp4 triliun, atau turun dari nilai pada awal tahun Rp6 triliun.

Indeks kemarin ditutup melemah 24,8 poin (1,07%) di level 2278,97. Total nilai perdagangan hanya Rp3,15 triliun, terhadap 1,97 miliar unit saham yang ditransaksikan.

Suryadi memperkirakan pelaku pasar menggunakan sentimen global untuk mengeksekusi keputusan transaksi mereka. "Investor mengacu pada bursa global. Nasib perekonomian global akan menentukan arah pasar."

Indeks hari ini kemungkinan bergerak dengan rentang pendek dari kisaran support 2.250 menuju resistance 2.280. Saham-saham defensif seperti pertambangan dan perkebunan, yang kemarin terkoreksi dalam, patut untuk dicermati potensi penguatan kembali (rebound)-nya.

Lapis kedua


E-trading Securities menilai saham-saham lapis kedua belum bisa menjadi tulang punggung penggerak indeks, karena investor masih mencermati dan menunggu (wait and see) saat yang tepat untuk masuk ke saham unggulan yang berada di teritori negatif.

"Saham lapis kedua masih kalah menarik dibandingkan dengan harga saham-saham unggulan yang sudah terkoreksi dalam," ujar Suryadi.

Saham pertambangan dan pekebunan kemarin terkoreksi secara berbarengan menyusul anjloknya harga komoditas dunia, akibat kekhawatiran kenaikan selama ini sudah terlalu tinggi.

Saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) kemarin turun Rp 400 menjadi Rp15.650, disusul saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) turun Rp450 menjadi Rp11.900.

Sektor perbankan dan otomotif menahan laju pelemahan indeks dengan penguatan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp150 menjadi Rp2.750, dan saham PT Astra Internasional Tbk (ASII) yang naik Rp150 menjadi Rp19.500.

Bursa Asia kemarin rontok menyusul anjloknya saham sektor keuangan dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Indeks Hang Seng turun 3,16%, KOSPI turun 2,88%, Nikkei turun 2,45%, STI Singapura turun 1,67%, dan Shanghai naik 0,81%.

Harga minyak mentah sepanjang tahun ini melonjak 70% dari posisi terendahnya US$85,42 per barel pada 23 Januari, menjadi rekor tertingginya US$145,29 pada 3 Juli.

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Mengunduh hasil integrasi bisnis Indofood
  • REKOMENDASI
  • Samudera raih kredit Rp500 miliar
  • Indosat genjot belanja modal jadi US$1,4 miliar