Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 21/07/2008

Buyback tak kuat angkat saham Kalbe

Biasanya, saham yang ditimpa aksi pembelian kembali (buyback) mengalami sedikit apresiasi harga, seiring dengan menguatnya nilai intrinsik saham. Aksi ini juga menjadi semacam pemulihan pasar di tengah tekanan bursa, karena rasio permintaan membesar dibandingkan dengan suplai yang ada.

PT Kalbe Farma Tbk tercatat telah membeli kembali (buyback) sahamnya sebanyak 434,5 juta dari pasar. Terakhir pada 30 Juni, perseroan membeli 59,6 juta saham dari total yang bisa dibeli kembali sebesar 1.015,6 juta unit saham.

Namun sepanjang tahun ini, harga saham berkode KLBF tersebut justru menurun 39,6% ke level terendahnya sebesar Rp760. Padahal, harga saham BUMN ini ditutup di level Rp1.260 pada akhir tahun lalu.

Sekilas, penurunan tersebut dipicu bearish bursa domestik. Namun jika dilihat dari sisi fundamental, koreksi tersebut memang sangat beralasan mengingat kinerja Kalbe pada triwulan I turun di bawah ekspektasi.

Pendapatan mereka hanya naik 12,1% dengan laba bersih turun 24% menjadi Rp171,3 miliar. Komponen harga pokok penjualan (cost of goods sold/COGS) membengkak akibat kenaikan harga bahan mentah.

Kinerja demikian membuat 'status' buyback Kalbe Farma berubah dari positif menjadi negatif. Semula, perseroan bernafsu menggenjot buyback sejak Januari di tengah momentum koreksi bursa.

Namun, aksi tersebut justru bisa kontraproduktif terhadap kinerja fundamental yang menurun. Analis Danareksa Yoga Prakarsa secara lugas menyampaikan masukan tersebut dalam laporan risetnya per 20 Juni.

"Kami tidak yakin Kalbe akan mampu sepenuhnya membeli kembali 10% saham. Jika perseroan memaksa, 70% dari kas akan tersedot sehingga langkah ini tidak bijak mengingat belanja modal 2008 saja mencapai Rp420 miliar," tuturnya.

Danareksa adalah broker pelaksana pembelian kembali saham Kalbe di pasar. Sekuritas pelat merah tersebut menilai perlambatan ekonomi akan menyebabkan pertumbuhan pendapatan Kalbe akhir tahun ini tertekan di bawah 10%.

Faktor inflasi


Yoga menilai pertumbuhan pendapatan akan cenderung moderat pada akhir 2008, mengikuti prediksi inflasi akhir tahun yang diperkirakan bercokol di kisaran 10,6% akibat kenaikan harga minyak mentah dan bahan pangan.

Tekanan inflasi memberikan dampak tak langsung berupa penurunan volume penjualan Kalbe, mengingat konsumen akan mengubah pola konsumsi mereka merespons kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi.

"Kami pesimistis perseroan dapat mencapai target pertumbuhan sebesar 15% tahun ini karena kondisi inflasi tinggi itu," ujarnya.

Terlebih, perseroan berencana menaikkan harga jual secara bertahap guna mengalihkan beban kenaikan harga bahan mentah kepada konsumen dengan kisaran kenaikan 25%-30%.

Manajemen terlihat optimistis target pasar mereka yakni masyarakat kelas menengah ke atas mampu menyerap kenaikan tersebut. Namun, margin dipastikan tertekan untuk beberapa waktu ke depan.

Faktor itu membuat Danareksa merevisi target pendapatan Kalbe pada periode 2008-2009 menjadi sebesar 22%-24%. Meskipun, secara jangka panjang perseroan berpotensi menangguk laba dari produk baru seperti TheraCIM, yang izin pemasaran di Indonesia, Singapura, dan Filipina masih diproses.

Tidak cukup dengan itu, perseroan juga mengembangkan dua divisi baru yakni divisi perawatan kesehatan ritel dan divisi peralatan dan diagnosis medis. Perseroan menggarap pasar peralatan dan diagnosis medis karena jumlah pemain di sektor ini masih terbatas di tengah kenaikan permintaan dari puskesmas dan rumah sakit.

Di sisi lain, divisi perawatan kesehatan ritel dilirik karena Kalbe berencana membuat klinik dengan layanan satu pintu. Klinik ini akan melengkapi layanan puskesmas yang terbatas. Klinik pertama telah dibuka di Bekasi dengan nama Klinik Mitrasana.

Dengan metode arus kas diskonto (discounted cash flow/ DCF), Danareksa menetapkan target harga KLBF senilai Rp1.098, yang mengimplikasikan rasio laba terhadap saham (PER) 2008-2009 sebesar 15,5 x -13,3 x dan EV/EBITDA 2008-2009 7 x - 5,6 x.

Kontraksi


Pada 2007, pasar farmasi domestik naik 9,2% setelah berkontraksi untuk pertama kali pada 2006. Divisi obat resep Kalbe mencatatkan pertumbuhan pendapatan 24% pada 2007, sedangkan divisi obat bebas (over the counter/ OTC) tumbuh 11,6%.

"Kami menilai kontribusi dua divisi farmasi tersebut berada di posisi 45% dari pendapatan konsolidasi tahun ini, dan mencerminkan karakter defensif belanja konsumen terhadap produk farmasi Kalbe," ujar Yoga.

Segmen obat resep mengontribusi 29% pendapatan tirwulan I/ 2008 senilai Rp506 miliar, disusul segmen nutrisi yang menyumbang Rp456,6 miliar. Segmen ditribusi menyumbang Rp371,2 miliar dan diharapkan meningkat karena penjualan segmen ini biasanya memang melemah pada triwulan I.

Segmen obat tanpa resep dan paket menyumbang Rp288,4 miliar dan Rp71,4 miliar. Kedua segmen tersebut diperkirakan mengontribusi 20% pendapatan 2008 karena kontribusi segmen minuman energi menurun.

Penjualan minuman energi Extra Joss hanya mengontribusi Rp49,7 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, berkontraksi sebesar 78% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya akibat ketatnya kompetisi.

Manajemen telah mengganti tim pemasaran pada April. Dampak pergantian manajemen ini diperkirakan baru terasa secara penuh pada semester kedua. Danareksa menurunkan perkiraan pendapatan Extra Joss tahun ini dari semula Rp832 miliar, menjadi hanya Rp246 miliar. (arif.gunawan@bisnis. co.id)

Oleh Arif Gunawan S.
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPOSE
    NISP tambah modal OCBC
  • EKSPOSE
    Peringkat obligasi XL AA
  • Mencermati laju bisnis minyak AKR
  • PREDIKSI
    Hindari tekanan, pemodal pilih saham lapis kedua