Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 21/07/2008
Imbal hasil SUN diperkirakan turun 5-10 basis poin
JAKARTA: Imbal hasil (yield) surat utang negara pekan ini diperkirakan turun rata-rata 5-10 basis poin didorong oleh minimnya sentimen dalam negeri yang memengaruhi perdagangan.
Akibatnya, harga beberapa surat utang negara (SUN) dalam minggu ini diperkirakan bergerak naik mengikuti penurunan yield.
Analis obligasi PT Trimegah Securities Dian Abdul Hakim mengatakan pemodal diperkirakan masih mengejar obligasi negara jangka panjang atau untuk seri-seri di atas 10 tahun.
"Pemodal masih mengincar SUN di atas 10 tahun, karena dinilai masih menjanjikan keuntungan dalam jangka panjang," ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Menurut Dian, penurunan harga minyak mentah dari US$145 per barel menjadi US$130 per barel belum menunjukkan pengaruhnya ke pasar SUN, karena pelaku pasar masih menunggu pergerakan harga komoditas tersebut pekan depan.
"Jika harga minyak mentah dunia stabil, berpotensi memberikan kenaikan harga ke beberapa seri SUN seperti yang terjadi beberapa pekan lalu," tuturnya.
Dia mengatakan pergerakan harga SUN pada pekan lalu, yang cenderung berfluktuatif, belum mencerminkan ekspektasi pasar.
Berdasarkan data Perhimpunan Pedagang Surat Utang Negara (Himdasun), penurunan harga terbesar terjadi pada seri FR0031 dari 88,90% pada penutupan perdagangan pekan lalu, turun 121 basis poin dibandingkan dengan penutupan pada pekan sebelumnya yaitu 90,11%.
Akibatnya, imbal hasil (yield) SUN seri tersebut naik sebanyak 20 basis poin dari level 12,59% pada penutupan perdagangan 11 Juli menjadi 12,80% pada akhir pekan lalu.
Menurut Dian, beberapa pemodal diperkirakan akan melakukan aksi pertukaran (switching) beberapa seri surat utang negara yang harganya telah terdiskon.
Penurunan IHSG
Terkait dengan penurunan IHSG pekan lalu, Dian mengatakan belum ada indikasi pengalihan investasi dari pasar saham ke pasar obligasi, meski untuk beberapa seri SUN terjadi peningkatan harga.
Ekonom PT Bank Danamon Tbk Helmi Arman menilai penurunan IHSG tidak membuat pasar obligasi mendapatkan limpahan dana investasi. "Belum terlihat, relatif masih sama."
Untuk jangka panjang, Helmi menilai ada tiga faktor yang masih menjadi perhatian khusus pemodal. Pertama adalah menurunnya inflasi. Kedua adalah lelang SUN yang berhasil memberikan pendapatan bagi pemerintah, namun pemerintah harus memperhatikan jumlah penggalangan dana.
Ketiga kekhawatiran harga minyak mentah yang melemah US$130 per barel. Hal itu menunjukkan pandangan pasar yang masih ragu harga minyak akan bertahan di level US$140 per barel. (21) (rahayuningsih@bisnis.co.id)
Oleh Rahayuningsih
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- PORTFOLIO
DBS Indonesia masuk segmen ritel - PORTOFOLIO
Suparma optimistis penjualan Rp1 triliun - PORTOFOLIO
Jasa Angkasa bagi dividen interim - PORTOFOLIO
Elnusa lunasi MTN Rp90 miliar - PORTOFOLIO
Pemegang saham Unilever berubah