Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 21/08/2008
Energi Mega raih pinjaman untuk bayar utang
JAKARTA: PT Energi Mega Persada Tbk telah meraup pinjaman baru guna membiayai kembali utang senilai US$152,75 juta yang jatuh tempo pada 15 Agustus 2008.
Direktur Keuangan Energi Mega Yuli Soedargo mengatakan perseroan telah mengantongi pinjaman itu beberapa waktu yang lalu. Namun, dia menolak memerinci lebih jauh.
"Utang yang lama sudah history. Kami sudah dapatkan pinjaman baru, tetapi agar lebih jelas lebih baik hubungi Herwin," ujarnya singkat saat dihubungi Bisnis, akhir pekan lalu.
Ketika dihubungi terpisah, Vice President Capital Markets Energi Mega Herwin Wahyu Hidayat tidak menjawab panggilan ke telepon selulernya ataupun menjawab pesan singkat yang Bisnis kirimkan.
Selama ini, manajemen Energi Mega selalu optimistis dalam mencari pendanaan eksternal. Namun, manajemen tidak pernah bersedia membeberkan sumber pendanaan tersebut.
Dari pasar modal
"Pinjaman kami peroleh dari pasar modal, tetapi saya tidak bisa menyebutkan tingkat bunga, jangka waktu, maupun pemberi pinjaman karena ada kesepakatan kerahasiaan yang kami tanda tangani," jelas Herwin pada 25 Juli, saat mendapatkan pinjaman untuk membiayai utang yang jatuh tempo senilai US$120 juta kepada Merrill Lynch.
Dengan diperolehnya pinjaman tersebut, dia memastikan perseroan tidak akan melakukan penawaran umum saham terbatas (rights issue) sebagaimana yang diberitakan media sebelumnya. Menurut dia, pinjaman yang diperoleh dari pasar modal itu mempunyai tingkat bunga yang kompetitif.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Bisnis, bank yang telah bersedia mengucurkan dana ke Energi Mega a.l. adalah Credit Suise dan bank asal India, ICICI Bank cabang Singapura. Namun Herwin tidak bersedia berkomentar atas hal itu.
Energi Mega tercatat mempunyai utang jangka panjang dengan Credit Suisse senilai US$152,75 juta atau setara dengan Rp1,39 tri-liun jika asumsi nilai tukar per US$1 yang digunakan sebesar Rp9.100.
Utang tersebut bermula dari adanya fasilitas kredit sebesar US$52,75 juta dari Credit Suisse kepada PT Semberani Persada Oil (Semco), unit usaha tidak langsung melalui anak perusahaan, pada 27 Oktober 2005.
Perseroan menyetorkan cicilan pertama sebesar US$26,37 juta pada 16 Agustus 2006. Pada saat yang sama, Credit Suisse menambah suntikan kredit baru senilai US$126,37 juta.
Menurut perjanjian, pinjaman baru ini hanya boleh digunakan untuk membayar biaya dan beban yang timbul sehubungan dengan fasilitas kredit, membayar pokok pinjaman serta bunga atas pinjaman tranche A.
Deposito
Energi Mega juga diizinkan untuk menggunakan pinjaman itu sebagai deposito ke rekening debt service atau mendanai pengeluaran modal PT Tunas Harapan Perkasa dan perusahaan operasi.
Kredit kedua dari bank investasi asing itu memiliki tingkat bunga 5% di atas London inter bank offered rate (Libor) untuk 12 bulan pertama dan 9% di atas Libor sampai dengan tanggal jatuh tempo. Pinjaman ini sudah jatuh tempo pada 15 Agustus 2008 atau Jumat pekan lalu.
Untuk pinjaman ini, perseroan menjaminkan sejumlah aset di antaranya 100% saham di Tunas Harapan Perkasa, Kalila (Korinci Baru) Ltd, Kalila (Bentu) Ltd, PT Insani Mitrasani Gelam, Semco, dan Costa International Group Ltd.
Harga saham berkode ENRG ini kemarin ditutup turun Rp10 menjadi Rp700 per saham. Dengan posisi itu, harga saham Energi Mega telah tergerus 49,27% dibandingkan dengan posisi tertinggi tahun ini Rp1.380 pada 30 Januari 2008.
Berdasarkan data Bloomberg, saham Energi Mega kini ditransaksikan pada price to earning ratio 98,24 kali. CIMB-GK Securities menargetkan harga saham ini mencapai Rp1.100 dengan tetap merekomendasikannya outperform. (pudji. lestari@bisnis.co.id)
Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- CP Prima rights issue hindari default
- Permintaan MTN Bumi US$200 juta
- Joint venture PT KA & PTBA terganjal pajak
- REKOMENDASI
- Bursa Efek Indonesia pangkas batas perdagangan Antaboga
Pemilik lama Bank Century diduga terlibat