Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 21/08/2008

Menunggu dampak akuisisi di Bukit Asam

Pada 14 Agustus, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk mengumumkan akuisisi PT International Prima Coal (IPC) senilai US$17,85 juta. Aksi korporasi itu membuat saham perseroan di pasar bertahan di jalur hijau ketika saham sejenis merugi.

Investor antusias merespons aksi korporasi tersebut dengan memborong saham BUMN ini pada hari pengumuman akuisisi, sehingga harga saham berkode PTBA ini melambung 12,3%, atau Rp1.500, ke level Rp13.650 per saham.

Isu akuisisi juga membuat saham BUMN tambang ini membagikan capital gain 8,75% sepanjang tahun ini, ketika saham sejenis seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tergerus 12,9% ke level Rp5.225.

Dalam siaran persnya, Sekretaris Perusahaan PTBA Eko Budhiwijayanto menyatakan akuisisi 51% saham IPC itu merupakan rencana strategis perseroan untuk meningkatkan produksi batu bara.

Hal ini sejalan dengan ekspektasi PT Paramitra Alfa Sekuritas yang memperkirakan akuisisi berjalan tahun ini, sebagai 'harga mati' di tengah anjloknya produksi tahunan.

Perusahaan sekuritas ini terutama prihatin melihat penurunan drastis pertambangan PTBA di Ombilin yang pada 2007 hanya sebesar 1.251 ton. Padahal, produksi batu bara di lokasi tersebut pernah mencapai 84.010 ton pada 2004.

"Dalam lima tahun terakhir, produksi batu bara di dua unit tambang PTBA turun 1,8% per tahun. Sumber daya yang terbatas membuat perseroan sulit meningkatkan produksi," tutur Kepala Riset Paramitra Sekuritas Pardomuan Sihombing dalam laporan riset pada 14 Juli.

Dia menuturkan perusahaan tambang yang akan diakuisisi jumlahnya tidak hanya satu, tetapi juga dua perusahaan. Dari akuisisi tersebut, perseroan menargetkan produksi batu bara sebesar 20 juta ton.

Bisnis batu bara sejauh ini tercatat menjadi sumber utama pendapatan BUMN ini, yang menyumbang lebih dari 99% pendapatan konsolidasi.

Belum berdampak


Pardomuan menilai akuisisi satu perusahaan tambang belum berdampak signifikan terhadap kenaikan produksi tahun ini. Argumen tersebut sejalan dengan keterangan resmi perseroan selanjutnya, yang mengakui tambang ICP masih dalam tahap eksplorasi.

Tambang batu bara itu baru dapat berproduksi setelah satu tahun dengan volume produksi 1 juta ton pada tahun pertama, dan terus ditingkatkan menjadi 2 juta ton per tahun. (Bisnis, 15 Agustus)

Di luar akuisisi, perseroan sedang gencar membangun rel kereta dengan PT Kereta Api Indonesia dan PT Transpacific Railway Infrastructure. Namun, proyek ini hanya meningkatkan volume penjualan, dan tidak meningkatkan produksi.

Karena dampak akuisisi belum signifikan, Pardomuan merekomendasikan jual saham berkode PTBA ter- sebut dengan target harga Rp12.496 per unit pada akhir 2008.

Dia menggunakan valuasi arus kas diskonto (discounted cash flow/ DCF) dengan biaya modal tertimbang (weighted average cost of capital/ WACC) 12,8 % dan pertumbuhan terminal 6%.

Perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan berlanjut hingga 2009 membuat harga batu bara terkoreksi, mengikuti turunnya permintaan minyak dunia. Koreksi harga komoditas batu bara dipastikan menekan harga saham emiten tersebut di pasar

"Turunnya permintaan minyak akan diikuti turunnya harga. Pada akhirnya, harga batu bara juga terkoreksi," ujar Pardomuan.

Tahun lalu, persentase konsumsi batu bara terhadap seluruh konsumsi energi dunia naik menjadi 28,6%, dari posisi 2006 sebesar 28%. Di sisi lain, persentase minyak turun dari 36% pada 2006 menjadi 35,6% pada 2007.

Pada periode yang sama, perkiraan cadangan batu bara dunia adalah 847.488 juta ton atau 133 tahun cadangan batu bara dunia. Cadangan gas dan minyak bumi justru mengempis menjadi 60,3 tahun dan 41,6 tahun. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • BEI incar dual listing tahun depan
  • Radiant cari kredit Rp300 miliar
  • Berkat akuisisi, saham BII terkuat di LQ-45
  • Darya Varia incar pertumbuhan 50%
  • PREDIKSI
    Pasar tunggu BI Rate turun
  • 'Privatisasi Kliring Berjangka Indonesia belum waktunya'
  • CPO tertekan harga minyak yang rendah
  • PORTOFOLIO
    Kenaikan cadangan pukul aluminium
  • 'Waktunya jual emas dan beli platina'