Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 21/08/2008

Obligasi korporasi tahan penurunan NAB reksa dana

JAKARTA: Tingkat pengembalian (return) rata-rata reksa dana campuran selama semester I tahun ini yang turun sebesar 9,15% dibandingkan dengan anjloknya return reksa dana saham sebesar 14,30% menunjukkan obligasi korporasi lebih mampu menahan penurunan nilai aktiva bersih instrumen investasi ini.

Reksa dana campuran memiliki underlying asset sebagian besar di obligasi korporasi, sedangkan reksa dana saham menanamkan dana kelolaannya ke pasar saham.

Padahal, indeks harga saham sedang mengalami tekanan akibat sejumlah saham unggulan, terutama yang berasal dari sektor komoditas tertekan oleh anjloknya harga minyak mentah. Indeks saham selama semester I/2008 turun sebesar 19,61%.

Berdasarkan data PT Infovesta Utama, sepanjang enam bulan pertama tahun ini indeks obligasi korporasi masih menguat 3,5%, sedangkan indeks surat utang negara (SUN) justru melemah sebesar -5,99%.

"Pergerakan obligasi korporasi berpengaruh positif terhadap reksa dana campuran," ujar Analis Riset Infovesta Dewi Fajar Mayang Sari kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Dia menilai pergerakan obligasi korporasi yang lebih stabil menyebabkan instrumen surat utang ini menyelamatkan investor reksa dana ketika muncul tekanan besar di pasar saham.

Namun, Dewi menjelaskan obligasi korporasi kurang likuid karena pemegang instrumen ini enggan memperdagangkan di pasar sekunder akibat ketidakpastian harga dan penilaian terhadap surat utang ini.

Dia memaparkan implikasinya terlihat ketika pasar obligasi secara umum menurun, obligasi korporasi lebih stabil karena penurunannya tidak seburuk obligasi pemerintah.

Sejak awal tahun ini, hanya delapan dari 96 reksa dana campuran dengan dana kelolaan sebesar Rp14,16 triliun yang return-nya positif. 

Reksa dana campuran Danamas Flexi dari PT Sinarmas Sekuritas membukukan return tertinggi sebesar 6,45%, dengan dana kelolaan Rp298,71 miliar. Berikutnya adalah reksa dana Dhanawibawa Progresif dari PT Dhanawibawa Arthacemerlang yang memiliki return mencapai 5,41% dengan dana kelolaan Rp14,36 miliar.

Pada sisi lain, sampai 30 Juni lalu, reksa dana saham membukukan dana kelolaan senilai Rp35,53 triliun. Dari 56 produk, hanya satu produk yang memiliki return positif sepanjang enam bulan pertama tahun ini, yaitu PNM Ekuitas Syariah dari PT PNM Investment Management dengan return sebesar 3,62%.

Analis Infovesta Rudiyanto menambahkan fleksibilitas perpindahan alokasi investasi reksa dana menjadi andalan manajer investasi untuk mengantisipasi volatilitas pasar keuangan.

"Porsi obligasi dalam reksa dana, baik obligasi pemerintah maupun korporasi, dapat diperbesar ketika indeks saham memburuk atau sebaliknya." (21)(redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • REKOMENDASI
    Optima Securities:
  • REKOMENDASI
    Trimegah Securities:
  • REKOMENDASI
    Indosurya Securities:
  • Bursa tak restui rencana Bumi terbitkan MTN
  • CP Prima rights issue hindari default
  • Permintaan MTN Bumi US$200 juta
  • Joint venture PT KA & PTBA terganjal pajak
  • REKOMENDASI
  • Bursa Efek Indonesia pangkas batas perdagangan Antaboga
    Pemilik lama Bank Century diduga terlibat