Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 27/08/2008

Minat bank syariah terhadap sukuk rendah

JAKARTA: Minat bank umum syariah terhadap surat utang bersyariah negara (sukuk/SBSN) mencapai Rp780 miliar atau 16,61% dari total penerbitan keseluruhan Rp4,69 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan asuransi sebesar 50,8%.

Rendahnya tingkat partisipasi bank umum syariah dan unit usaha syariah dalam lelang surat berharga syariah negara atau sukuk disebabkan oleh likuiditas lembaga tersebut sedang tiris karena ekspansi pembiayaan pada paruh tahun ini meningkat tajam.

Direktur Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) Ramzi A. Zuhdi mengatakan minimnya partisipasi bank syariah adalah hal wajar, karena seluruh dana masyarakat dikucurkan melalui pembiayaan.

"Kalau kita lihat neraca bank syariah wajar saja partisipasi pada lelang sukuk kecil, karena dana dari pihak ketiga seluruhnya diberikan dalam bentuk pembiayaan," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Berdasarkan laporan BI, sepanjang enam bulan pertama tahun ini rasio pembiayaan terhadap penghimpunan dana (financing to deposit ratio/FDR) di atas 97%. Pada Juni lalu FDR bank syariah mencapai 103,18%, lebih tinggi dari periode sebelumnya 101,1%.

Artinya, dengan penghimpunan dana pada Juni 2008 sebesar Rp33,05 triliun, sementara pembiayaan yang dikucurkan sebesar Rp34,09 triliun, maka terjadi distorsi likuiditas dengan pinjaman yang digelontorkan.

Dari total penerbitan sukuk sebesar Rp4,69 triliun, penjatahan terbesar berasal dari asuransi Rp2,38 triliun, bank syariah menempati posisi kedua sebesar Rp780 miliar (lihat tabel).

Dalam masa penawaran, sukuk kelebihan permintaan hingga Rp8 tri-liun terbesar berasal dari asuransi Rp2,4 triliun, bank konvensional Rp2,18 triliun dan penawaran yang berasal dari bank syariah Rp780 miliar.

Pemerintah telah menetapkan penerbitan sukuk seri IFR0001 bertenor 7 tahun sebesar Rp2,71 tri-liun dengan imbal hasil 11,8% dan IFR0002 bertenor 10 tahun sebanyak Rp1,98 triliun dengan imbal hasil 11,95%.

Dia meminta ke depan bank syariah tidak menolak dana yang masuk dan kemudian menyimpannya melalui instrumen sukuk.

Ketua Umum Indonesia Islamic Global Market Association (IIGMA) Agus Sabaruddin mengatakan penerbitan sukuk dengan kondisi likuiditas bank syariah tidak sinkron, sehingga menyebabkan tingkat partisipasi sedikit.

"Sekarang ini tingkat FDR bank syariah sudah tinggi dan kondisi likuiditas juga sedang susah. Sayang sekali mepet dengan siklus likuiditas yang banyak saling membutuhkan. Jadi ini masalah timing saja," paparnya.

Di samping itu, menurutnya, masih ada bank syariah yang meragukan regulasi dari Peraturan Bank Indonesia (PBI) apakah nanti sukuk boleh diperdagangkan pada pasar sekunder.

Head of Debt Capital Market PT Danareksa Sekuritas Edwin Syahruzad mengatakan dari Rp780 miliar tawaran yang masuk dari perbankan syariah, seluruhnya diluluskan oleh pemerintah. Adapun tawaran dari bank konvensional sejumlah Rp2,18 triliun hanya diluluskan Rp105 miliar.

Dirut Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan pihaknya telah memborong sukuk sebesar Rp1 triliun atau lebih dari 22% dari nilai yang ditetapkan oleh pemerintah.

Penjualan ORI


Di tempat terpisah Direktur Surat Berharga Nasional Depkeu Bhimantara Widyajala mengatakan pemerintah mendesak 18 agen penjual obli- gasi negara ritel Indonesia ORI seri 005 untuk lebih aktif mencapai target penjualan surat utang senilai Rp6,22 triliun hingga batas akhir penjualan akhir pekan ini.

Jumlah penjualan baru mencapai Rp1,82 triliun atau senilai 29,33% dalam lima hari pertama masa penjualan.

"Kami sudah mengingatkan agen penjual hari Jumat lalu agar menepati jumlah komitmen penjualan mereka," ujarnya.

Menurutnya, beberapa agen memang sudah melampaui target hingga hari kelima penjualan ORI, tetapi beberapa yang lain masih memiliki angka penjualan yang minim.

Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang Depkeu, PT Bank Central Asia Tbk berhasil menjual surat utang ritel sebesar 67,08% atau senilai Rp469,57 miliar dari target Rp700 miliar, diikuti oleh PT Danareksa Sekuritas dengan 53,29% penjualan dari target Rp250 miliar.

Pemerintah kemarin juga telah melakukan lelang SUN untuk seri SPN20090731, seri FR0036, dan seri FR0050 yang meraup dana Rp3,96 triliun. (11/16/21/hanna prabandari/rahayuningsih)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • REKOMENDASI
    Optima Securities:
  • REKOMENDASI
    Trimegah Securities:
  • REKOMENDASI
    Indosurya Securities:
  • Bursa tak restui rencana Bumi terbitkan MTN
  • CP Prima rights issue hindari default
  • Permintaan MTN Bumi US$200 juta
  • Joint venture PT KA & PTBA terganjal pajak
  • REKOMENDASI
  • Bursa Efek Indonesia pangkas batas perdagangan Antaboga
    Pemilik lama Bank Century diduga terlibat